东京热

东京热 Official Website

Pengaruh Ketebalan dan Kandungan Yttria terhadap Ketahanan Gigi: Rahasia Kekuatan Veneer Zirkonia Ultra-Transparan:

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Senyum yang rapi dan harmonis, terutama ditentukan oleh gigi seri tengah rahang atas, memiliki peran penting dalam membentuk daya tarik wajah dan meningkatkan rasa percaya diri seseorang. Perawatan estetik gigi tidak hanya memperbaiki penampilan, tetapi juga berdampak positif terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup. Karena itu, penggunaan veneer dan implan gigi semakin populer sebagai solusi untuk memperbaiki fungsi sekaligus estetika rongga mulut pada berbagai kelompok usia.

Veneer keramik merupakan lapisan porselen tipis yang direkatkan pada permukaan depan gigi untuk memperbaiki masalah seperti celah gigi, perubahan warna, maupun ketidakteraturan posisi gigi tanpa merusak struktur gigi secara berlebihan. Perawatan ini memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dan dapat bertahan hingga hampir sepuluh tahun dengan masalah minimal, seperti perubahan warna ringan. Keberhasilan veneer dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kekuatan material terhadap fraktur, kualitas daya rekat, teknik preparasi gigi, hingga perawatan pasien setelah pemasangan.

Dalam praktik kedokteran gigi modern, ketebalan veneer menjadi salah satu faktor penting, terutama pada konsep perawatan minimal invasif yang berupaya mempertahankan email gigi sebanyak mungkin. Veneer yang lebih tipis membantu mengurangi pengikisan gigi, tetapi di sisi lain harus tetap cukup kuat untuk menahan tekanan kunyah. Penelitian menunjukkan bahwa semakin tipis veneer, semakin besar konsentrasi stres yang dapat muncul pada material, sehingga meningkatkan risiko retak atau kegagalan restorasi apabila bahan yang digunakan tidak tepat.

Perkembangan teknologi CAD/CAM telah membawa revolusi besar dalam dunia kedokteran gigi dengan memungkinkan pembuatan restorasi yang lebih presisi, cepat, dan efisien. Teknologi ini banyak digunakan untuk pembuatan veneer berbahan lithium disilicate, porselen, maupun zirkonia. Di antara berbagai material tersebut, zirkonia kini semakin diminati karena memiliki kombinasi kekuatan dan estetika yang sangat baik.

Pada awal penggunaannya, zirkonia memiliki kelemahan berupa tampilan yang terlalu opak sehingga kurang alami dibandingkan gigi asli. Namun, kemajuan teknologi menghasilkan zirkonia ultra-translusen dengan kandungan yttria yang lebih tinggi, sehingga tampilan material menjadi lebih jernih dan estetik. Zirkonia tipe 3Y-TZP dengan kandungan yttria 3 mol% memiliki ketahanan retak yang sangat tinggi karena didominasi fase tetragonal, sedangkan zirkonia 5Y-TZP dengan kandungan yttria 5 mol% memiliki fase kubik lebih banyak sehingga lebih translusen, tetapi kekuatan frakturnya sedikit menurun. Perbedaan ini menjadi sangat penting dalam pemilihan material veneer, terutama ketika ketebalan restorasi dibuat sangat tipis.

Meskipun lithium disilicate masih dianggap sebagai standar emas untuk veneer anterior karena kualitas optiknya, perkembangan zirkonia ultra-translusen multilapis menawarkan kombinasi baru antara estetika tinggi dan kekuatan mekanis yang unggul. Oleh karena itu, penelitian ini lebih difokuskan pada pemahaman perilaku biomekanik berbagai jenis zirkonia dibandingkan membandingkannya dengan kelompok keramik lainnya.

Untuk menganalisis perilaku material tersebut, penelitian menggunakan metode Finite Element Analysis (FEA), yaitu teknik simulasi komputer yang mampu memprediksi distribusi stres dan risiko fraktur pada restorasi gigi ketika menerima beban kunyah. Metode ini telah digunakan dalam biomekanika kedokteran gigi sejak tahun 1973 dan terbukti membantu memahami bagaimana suatu material bereaksi terhadap tekanan.

Namun, hingga saat ini penelitian mengenai ketahanan veneer zirkonia pada gigi seri rahang atas masih terbatas, terutama untuk veneer multilapis ultra-translusen dengan variasi kandungan yttria dan ketebalan klinis yang realistis. Penelitian ini menjadi menarik karena menggunakan simulasi kondisi kunyah anterior yang mendekati keadaan sebenarnya, termasuk pembebanan miring sebesar 50 N dengan sudut 60掳 serta pemodelan jaringan pendukung periodontal secara komprehensif.

Secara khusus, penelitian ini bertujuan mengevaluasi risiko fraktur veneer zirkonia ultra-translusen multilapis dengan dua variasi kandungan yttria dan dua ketebalan berbeda, yaitu 0,75 mm dan 1,00 mm. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana ketebalan dan komposisi material memengaruhi distribusi stres pada veneer, sehingga membantu dokter gigi menentukan pilihan material yang lebih aman, kuat, dan estetik untuk perawatan pasien di masa depan.

Penulis: Prof. Dr. Dian Agustin Wahjuningrum, drg., Sp.KG. Subsp, KE(K)

Informasi lebih detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://link.springer.com/article/10.1186/s12903-026-07912-8

Shivani Khandelwal, Devansh Verma, Anuj Bhardwaj, Surekha Puri Bhat, Shivani Bhardwaj, Suraj Arora, Dian Agustin Wahjuningrum and Ajinkya M. Pawar. [2026] In silico analysis of stress distribution in ultratranslucent multilayered zirconia veneers

of varying thickness and yttria content using Finite Element Analysis (FEA).

AKSES CEPAT