¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Peneliti Ungkap Keunikan Sistem Pencernaan Kelelawar Buah yang Mendukung Adaptasi Makan Buah

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Penelitian terbaru yang dilakukan tim peneliti dari ¶«¾©ÈÈ bersama akademisi internasional berhasil mengungkap karakteristik anatomi dan histologi sistem pencernaan kelelawar buah Rousettus amplexicaudatus. Studi ini menjadi salah satu penelitian paling komprehensif yang memetakan struktur saluran pencernaan kelelawar pemakan buah secara detail, mulai dari kerongkongan hingga usus besar.

Kelelawar buah dikenal memiliki peran penting dalam ekosistem tropis sebagai penyebar biji dan penyerbuk alami. Namun, informasi ilmiah mengenai struktur organ pencernaannya masih sangat terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk memahami bagaimana tubuh kelelawar beradaptasi terhadap pola makan yang didominasi buah-buahan kaya gula dan karbohidrat.

Penelitian dilakukan terhadap tujuh ekor kelelawar dewasa yang ditangkap di kawasan De Djawatan, Banyuwangi, Jawa Timur. Seluruh sampel kemudian dianalisis melalui pengukuran morfometri tubuh, pengamatan anatomi kasar, serta pemeriksaan histologi menggunakan mikroskop.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pencernaan kelelawar buah memiliki struktur yang sangat terspesialisasi untuk mendukung proses pencernaan cepat dan penyerapan nutrisi yang efisien. Lambung kelelawar ditemukan berbentuk sederhana namun memiliki lapisan kelenjar yang berkembang baik untuk membantu pencernaan buah lunak yang kaya gula alami.

Selain itu, usus halus kelelawar memiliki vili atau jonjot usus yang panjang dan rapat. Struktur ini memperluas permukaan penyerapan sehingga nutrisi dapat diserap secara maksimal dalam waktu singkat. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kelelawar buah memiliki mekanisme biologis yang sangat efisien untuk memenuhi kebutuhan energi tinggi saat terbang.

Peneliti juga menemukan adanya kripta Lieberkühn dan Peyer’s patches yang berkembang baik di saluran pencernaan. Kripta Lieberkühn berfungsi dalam regenerasi sel usus dan produksi enzim pencernaan, sedangkan Peyer’s patches merupakan jaringan limfoid yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh usus.

Keberadaan struktur imun ini menunjukkan bahwa saluran pencernaan kelelawar tidak hanya berfungsi untuk mencerna makanan, tetapi juga menjadi garis pertahanan penting terhadap mikroorganisme dan patogen yang masuk bersama makanan. Hal ini dinilai relevan mengingat kelelawar sering dikaitkan dengan berbagai studi penyakit zoonosis dan interaksi mikroba.

Penelitian juga mengungkap bahwa perbedaan antara kelelawar jantan dan betina relatif sangat kecil. Hampir seluruh parameter tubuh dan organ pencernaan menunjukkan ukuran yang serupa pada kedua jenis kelamin. Satu-satunya perbedaan signifikan ditemukan pada panjang esofagus atau kerongkongan, di mana jantan memiliki ukuran lebih panjang dibanding betina pada bentuk dan usia yang sama.

Secara umum, keseragaman struktur organ tersebut menunjukkan bahwa baik jantan maupun betina memiliki pola makan serta strategi pencernaan yang hampir identik. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa adaptasi fisiologis kelelawar buah lebih dipengaruhi oleh jenis makanan dibandingkan faktor seksual.

Peneliti menyebutkan bahwa struktur saluran pencernaan kelelawar buah sangat berbeda dibanding mamalia herbivora besar yang mengandalkan fermentasi. Pada kelelawar buah, proses pencernaan berlangsung cepat tanpa adanya ruang fermentasi besar seperti pada hewan pemamah biak. Sistem ini dianggap lebih sesuai untuk mendukung metabolisme tinggi dan kebutuhan energi saat terbang jarak jauh.

Selain penting dalam bidang anatomi dan fisiologi hewan, hasil penelitian ini juga memiliki manfaat luas dalam bidang konservasi satwa liar dan kesehatan. Data anatomi yang detail dapat menjadi acuan dalam penanganan medis kelelawar di pusat rehabilitasi maupun dalam penelitian penyakit yang melibatkan kelelawar sebagai inang alami.

Penelitian ini juga dinilai penting untuk mendukung pengembangan teknologi organoid atau model usus buatan kelelawar di laboratorium. Teknologi tersebut kini mulai banyak digunakan dalam studi interaksi virus dan inang, termasuk untuk memahami mekanisme toleransi kelelawar terhadap berbagai patogen.

Meski demikian, penelitian ini berhasil memberikan dasar ilmiah penting mengenai hubungan antara struktur saluran pencernaan, pola makan, sistem imun, dan adaptasi ekologis kelelawar buah. Temuan tersebut membuka peluang baru bagi pengembangan riset biologi satwa liar, konservasi, hingga kajian penyakit menular yang melibatkan kelelawar sebagai bagian penting dari ekosistem.

Penulis: Lintang Winantya Firdausy

Sumber: Dhamayanti, Y., Mujiburrahman, A., Bayram, M., & Firdausy, L. W. (2026). Anatomical and histological study of the alimentary tract in fruit bats (Rousettus amplexicaudatus). Jurnal Medik Veteriner, 9(1), 124–138.

Link:

AKSES CEPAT