Upaya pencegahan demam berdarah dengue tidak cukup hanya berfokus pada wadah air yang paling banyak ditemukan di rumah. Jenis, lokasi, dan cara masyarakat mengelola wadah air juga menentukan kemungkinan wadah tersebut menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Temuan tersebut disampaikan dalam penelitian berjudul 鈥淏reeding Habitat Preferences of Aedes aegypti as a Dengue Vector in Urban Areas of Banjarmasin, Indonesia鈥. Artikel itu dipublikasikan dalam jurnal Serangga Volume 31 Nomor 1 Tahun 2026.
Penelitian melibatkan Prof Ririh Yudhastuti dari Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat 东京热, bersama para peneliti dari Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Sari Mulia, Poltekkes Kemenkes Banjarmasin, dan sejumlah institusi lainnya.
Periksa 948 Wadah Penampung Air
Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi habitat perkembangbiakan yang lebih disukai oleh Aedes aegypti di wilayah perkotaan Banjarmasin. Peneliti membandingkan kondisi pada wilayah endemis dan nonendemis dengue.
Survei dilakukan terhadap 235 rumah tangga yang tersebar di delapan kelurahan. Wilayah endemis meliputi Sungai Andai, Karang Mekar, Pemurus Baru, dan Kuripan. Sementara itu, wilayah nonendemis terdiri atas Alalak Selatan, Belitung Utara, Kelayan Dalam, dan Sungai Bilu.
Sebanyak 948 wadah yang dapat menampung air diperiksa, baik yang berada di dalam maupun di sekitar rumah. Peneliti mencatat keberadaan larva, jenis wadah, bahan, warna, lokasi penempatan, keberadaan ikan pemakan jentik, serta kebiasaan pengurasan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa 206 wadah atau 21,7 persen dari seluruh wadah yang diperiksa positif mengandung larva Aedes aegypti. Temuan ini memperlihatkan bahwa lebih dari satu dari setiap lima wadah air yang diperiksa berpotensi mendukung perkembangan vektor dengue.
Ember Terbanyak, tetapi Bukan yang Paling Disukai
Ember merupakan wadah yang paling banyak ditemukan selama penelitian. Jumlahnya mencapai 423 atau 44,6 persen dari seluruh wadah yang diperiksa.
Namun, banyaknya jumlah ember tidak serta-merta menunjukkan bahwa wadah tersebut menjadi habitat yang paling disukai nyamuk. Untuk menilai preferensi itu, tim menggunakan Breeding Preference Ratio atau BPR. Indikator tersebut membandingkan kontribusi suatu jenis wadah terhadap keberadaan larva dengan ketersediaannya di lingkungan.
Hasilnya, vas bunga dan tatakan pot memiliki nilai BPR tertinggi. Seluruh 14 vas bunga atau tatakan pot yang ditemukan dalam penelitian diketahui positif mengandung larva. Nilai BPR wadah tersebut mencapai 4,09 di wilayah endemis dan 5,20 di wilayah nonendemis.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa meskipun jumlah vas bunga jauh lebih sedikit daripada ember, secara proporsional wadah itu lebih berpotensi menjadi habitat larva.
Meski demikian, peneliti mengingatkan bahwa jumlah vas bunga yang diperiksa relatif sedikit. Karena itu, penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar masih diperlukan untuk memastikan konsistensi preferensi tersebut pada wilayah dan periode yang berbeda.
Selain vas bunga, wadah minum hewan, tempat penampungan air dispenser, drum, dan sejumlah wadah penyimpanan air lainnya juga memiliki nilai preferensi perkembangbiakan yang cukup tinggi.
Wadah Luar Rumah Lebih Berisiko
Lokasi penempatan wadah menjadi temuan penting dalam penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa wadah yang berada di luar rumah memiliki kemungkinan lebih dari tiga kali lipat untuk mengandung larva dibandingkan wadah di dalam rumah.
Secara statistik, wadah luar rumah mempunyai nilai odds ratio sebesar 3,366. Artinya, setelah mempertimbangkan karakteristik lain dalam model analisis, peluang ditemukannya larva pada wadah luar rumah sekitar 3,4 kali lebih besar daripada pada wadah dalam rumah.
Risiko itu dapat berkaitan dengan kondisi mikro di sekitar wadah, seperti paparan hujan, suhu, kelembapan, keberadaan bahan organik, serta posisi wadah yang terlindung atau teduh.
Wadah yang berada di halaman, kebun, teras, sekitar saluran air, maupun area pemeliharaan hewan sering kali luput dari pemeriksaan rutin. Air dapat tertampung dalam pot, ban bekas, ember, wadah minum hewan, dispenser, atau barang bekas yang tidak segera dibersihkan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemberantasan sarang nyamuk tidak boleh hanya dilakukan di kamar mandi atau dapur. Pemeriksaan lingkungan sekitar rumah juga perlu menjadi bagian penting dari kegiatan pencegahan.
Wilayah Nonendemis Juga Memiliki Risiko Tinggi
Penelitian juga menemukan bahwa keberadaan larva tidak hanya menjadi persoalan di wilayah yang selama ini dikategorikan sebagai daerah endemis dengue.
Nilai House Index atau proporsi rumah yang ditemukan memiliki larva mencapai 43,70 persen di wilayah endemis dan 43,97 persen di wilayah nonendemis. Artinya, hampir separuh rumah yang diperiksa pada kedua kelompok wilayah memiliki wadah positif larva.
Tidak terdapat perbedaan bermakna pada House Index antara wilayah endemis dan nonendemis. Temuan tersebut menunjukkan bahwa status nonendemis tidak selalu berarti suatu wilayah terbebas dari kepadatan vektor.
Perbedaan terlihat pada Container Index, yaitu proporsi wadah yang positif mengandung larva. Nilainya mencapai 24,45 persen pada wilayah endemis dan 19,23 persen pada wilayah nonendemis. Proporsi wadah positif di wilayah endemis tercatat 1,27 kali lebih tinggi.
Sementara itu, Breteau Index, yaitu jumlah wadah positif per 100 rumah yang diperiksa, mencapai 93,28 pada wilayah endemis dan 81,90 pada wilayah nonendemis. Kedua nilai tersebut menunjukkan tingginya tingkat infestasi larva di lingkungan permukiman.
Pengendalian Perlu Lebih Terarah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian vektor perlu bergeser dari pendekatan yang memperlakukan semua wadah secara sama menuju pendekatan berbasis risiko.
Wadah yang paling banyak ditemukan belum tentu menjadi wadah yang paling produktif menghasilkan larva. Karena itu, program surveilans perlu mengidentifikasi wadah dengan nilai risiko dan preferensi perkembangbiakan yang lebih tinggi.
Vas bunga, tatakan pot, tempat minum hewan, wadah dispenser, drum, serta wadah yang berada di luar rumah perlu memperoleh perhatian khusus. Pemeriksaan juga perlu mencakup wadah berukuran kecil yang terlindung dan jarang dibersihkan.
Masyarakat dapat melakukan pemeriksaan rutin dengan menguras dan menyikat wadah air, menutup tempat penampungan air, mendaur ulang atau membuang barang yang berpotensi menampung air, serta memastikan tidak ada genangan di sekitar rumah.
Pada wadah permanen yang sulit dikuras, penggunaan metode pengendalian biologis seperti ikan pemakan jentik dapat dipertimbangkan sesuai kondisi wadah. Penelitian menemukan bahwa pemanfaatan ikan pemakan jentik pada rumah yang diperiksa masih sangat rendah.
Perilaku Masyarakat Menjadi Kunci
Warna dan bahan wadah tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan keberadaan larva dalam penelitian tersebut. Keberadaan ikan serta frekuensi pengurasan juga belum menunjukkan hubungan signifikan dalam model yang digunakan.
Namun, temuan itu tidak berarti kegiatan pengurasan atau pengendalian biologis tidak penting. Peneliti menilai rendahnya variasi karakteristik wadah dan terbatasnya penerapan beberapa tindakan pencegahan dapat memengaruhi hasil analisis.
Secara umum, penelitian menekankan pentingnya perilaku masyarakat dalam mengelola wadah penampung air. Wadah yang jarang diperiksa, dibiarkan terbuka, dan ditempatkan di luar rumah dapat menjadi habitat yang mendukung perkembangan nyamuk.
Edukasi kepada masyarakat karena itu perlu dibuat lebih spesifik. Pesan pencegahan tidak hanya berbunyi 鈥渕enguras tempat penampungan air鈥, tetapi juga perlu menyebutkan jenis wadah yang harus diperiksa dan area rumah yang sering terlewatkan.
Mendukung Surveilans Berbasis Data
Penelitian ini turut menunjukkan pentingnya surveilans entomologi yang disesuaikan dengan karakteristik lokal. Pola habitat nyamuk di suatu kota dapat berbeda dari wilayah lain karena dipengaruhi kondisi geografis, kebiasaan penyimpanan air, bentuk permukiman, dan perilaku masyarakat.
Penggunaan BPR dapat membantu petugas menentukan jenis wadah yang perlu diprioritaskan. Dengan demikian, tenaga, waktu, dan sumber daya pengendalian dapat diarahkan pada habitat yang memberikan kontribusi lebih besar terhadap populasi larva.
Ke depan, peneliti merekomendasikan studi longitudinal yang dilakukan pada berbagai musim. Penelitian berikutnya juga perlu memasukkan kondisi suhu air, tingkat keasaman, kandungan bahan organik, kepadatan nyamuk dewasa, dan perilaku masyarakat.
Integrasi data entomologi dengan pemetaan geografis, informasi cuaca, dan teknologi digital juga berpotensi mendukung sistem peringatan dini. Pendekatan tersebut dapat membantu mengubah pengendalian dengue dari respons setelah kasus meningkat menjadi tindakan pencegahan yang lebih cepat dan terarah.
Secara keseluruhan, penelitian tersebut menegaskan bahwa pencegahan dengue harus dimulai dari pemeriksaan wadah air di dalam dan di luar rumah. Mengurangi habitat berisiko secara rutin merupakan langkah penting untuk memutus siklus perkembangbiakan Aedes aegypti dan menekan risiko penularan dengue.
Penulis: Prof. Dr. Ririh Yudhastuti, drh., M.Sc.





