东京热

东京热 Official Website

Pegiat Perpus Prasojo Berikan Orasi Ilmiah di Pra-Dies Natalis Sejarah UNAIR

YUNAZ Ali Akbar Karaman, pegiat literasi Perpustakaan Prasojo, memberikan orasi di Pra-Dies Natalis Ke-21 Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) 东京热 pada Rabu (13/3). (Foto: Rama)
YUNAZ Ali Akbar Karaman, pegiat literasi Perpustakaan Prasojo, memberikan orasi di Pra-Dies Natalis Ke-21 Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) 东京热 pada Rabu (13/3). (Foto: Rama)

UNAIR NEWS 鈥 Yunaz Ali Akbar Karaman, pegiat literasi perpus Prasojo memberikan orasi ilmiah di Pra-Dies Natalies Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) 东京热 (UNAIR), Pada Rabu, (13/3/2019). Ia juga tercatat sebagai mahasiswa ilmu sejarah angkatan 2015. Diketahui, kegiatan itu digelar sebagai bagian dari memperingati hari jadi Sejarah UNAIR yang ke-21.
Sebagai pembicara pertama, Yunaz mengangkat judul orasi 鈥淏uku Dalam Rak-Rak Ruang Kota鈥. Dia menyoroti eksistensi buku di Indonesia yang sejak dulu dianggap sebagai teman hidup di masyarakat.
鈥漇eperti di opininya Agus Irwanto berjudul Kraton dan Literasi Budaya, dia menulis bahwa bangsa ini (Indonesia, Red) sudah mengenal dan menjalani budaya literasi yang luhur seperti manuskrip atau naskah kuno,鈥 ungkap Yunaz yang juga mantan ketua BEM FIB UNAIR.
Lebih lanjut Yunaz menuturkan, agenda mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu cita-cita utama Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Dari situ, kata Yunaz, peran buku turut menjadi kunci dalam mencapai cita-cita luhur tersebut.
Sebab, dia berkeyakinan bahwa buku tidak hanya untuk memberikan informasi saat ini. Melainkan juga dapat membuka jendela peristiwa pada masa lalu dan yang akan datang.
鈥滺al ini karena buku juga dapat menstimulus pembaca untuk mengasah otak dengan membuka lembar demi lembarnya,鈥 terang mahasiswa asal Malang tersebut.
Kemudian hadirnya berbagai perpustakaan yang gencar menyosialisasikan tentang literasi, Yunaz berpendapat bahwa itu adalah langkah awal yang positif untuk mengajak masyarakat dekat dengan buku. Apalagi ditambah berkembangnya infrastruktur kota seperti hotel, perumahan, dan tempat hiburan. Hal itu akan menjadi kekuatan tersendiri untuk menghadirkan buku di ruang atau sudut kota tersebut.
鈥漇aya akan sangat bangga jika di dalam kantor, mal, bahkan halte bus akan disapa oleh tumpukan buku kotor dan acak-acakan yang lusuh habis dibaca orang,鈥 kata Yunaz.
鈥滽arena itu bisa menjadi cerminan peradaban yang membuktikan kepada dunia bahwa kita telah mempunyai tradisi yang luhur dengan literasi yang baik,鈥 pungkasnya. (*)
 
Penulis: Fariz Ilham Rosyidi
Editor: Feri Fenoria

AKSES CEPAT