东京热

东京热 Official Website

Pakar Kedokteran Gigi Anak UNAIR Teliti Potensi Saliva untuk Deteksi Tumbuh Kembang Anak Down Syndrome

Ilustrasi anak menjaga kesehatan giginya. (Sumber: Ciputra Medical Center)
Ilustrasi anak menjaga kesehatan giginya. (Sumber: Ciputra Medical Center)

UNAIR NEWS 鈥� Perkembangan ilmu kedokteran gigi anak terus melahirkan inovasi untuk meningkatkan kenyamanan serta keakuratan diagnosis pada pasien anak. Guru Besar , Prof Dr Sindy Cornelia Nelwan drg SpKGA K-KGA, memaparkan hasil riset terbarunya mengenai potensi pengujian air liur untuk mendeteksi tumbuh kembang anak, termasuk pada anak dengan kondisi Down Syndrome.

Deteksi Kematangan Gigi Tanpa Radiasi

Selama ini, menentukan waktu tumbuhnya gigi serta momen yang tepat untuk tindakan medis sering kali mengandalkan foto rontgen. Namun, penggunaan rontgen membawa risiko paparan radiasi yang sebisa mungkin bisa anak-anak hindari. Melalui riset ini, Prof Sindy memanfaatkan hormon Dehydroepiandrosterone Sulfate atau DHEA-S yang terdapat dalam air liur. Hormon ini mencerminkan aktivitas kelenjar adrenal yang kadarnya meningkat seiring proses pematangan tubuh.

Prof Sindy menjelaskan bahwa penggunaan hormon ini menjadi solusi yang aman bagi pasien anak. “Dengan kita pakai hormon yang ada di air liur ini, penelitian bisa berlangsung secara non-invasif, biasanya kalau kita mau lihat giginya kapan tumbuh, kita foto rontgen, namun itu kan ada paparan radiasi yang ingin kita hindari pada anak-anak,” ujar Prof Sindy.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi, 东京热, Prof Dr Sindy Cornelia Nelwan drg SpKGA K-KGA. (Foto: Narasumber)
Target Masa Depan: Pengembangan Kit Diagnosis Praktis

Riset ini nantinya tidak hanya berhenti di laboratorium semata. Prof Sindy mengungkapkan harapannya untuk mengembangkan alat ukur mandiri berupa diagnostic kit yang praktis di masa depan.

“Sebetulnya riset ini mau diarahkan untuk membuat diagnostic kit, yaitu alat yang bisa dipakai langsung oleh praktisi di lapangan seperti tes kehamilan. Begitu air liurnya diteteskan, kita bisa langsung melihat dan memprediksi kapan gigi anak akan tumbuh. Namun, memang prosesnya masih agak panjang karena kita mesti membuat alatnya terlebih dahulu,” tutur Prof Sindy.

Edukasi Pencegahan Gigi Berlubang dan Kebiasaan Buruk Anak

Selain memaparkan risetnya, Prof Sindy memberikan panduan bagi para orang tua dalam menjaga kesehatan rongga mulut anak. Beliau menegaskan bahwa masalah karies gigi mendapat pengaruh oleh empat faktor utama, yaitu kualitas gigi, lingkungan, keberadaan mikroorganisme, serta faktor waktu.聽

“Kalau anak tidur malam hari sambil minum susu, itu akan menyebabkan karies di empat gigi depan yang kita sebut jenis nursing bottle syndrome. Jika susu formula saja sebenarnya tidak apa-apa, asal waktunya terputus dan segera kita bersihkan agar tidak ada kesempatan terjadi fermentasi atau mengeluarkan asam yang merusak gigi,” terang Prof Sindy.

Prof Sindy menegaskan bahwa pencegahan karies harus berawal sejak masa kehamilan melalui pemenuhan nutrisi vitamin dan mineral, sebab benih gigi anak sudah mulai terbentuk sejak usia kehamilan empat bulan. Selain itu Prof Sindy menghimbau para orang tua untuk membawa anak ke dokter gigi minimal enam bulan sekali.聽

“Kami menganjurkan orang tua membawa anak ke dokter gigi minimal enam bulan sekali. Jangan menunggu anak mengeluh sakit, karena kalau sudah sakit berarti lubangnya sudah dalam. Padahal, awal gigi berlubang itu ditandai dengan bercak putih yang hanya bisa diketahui oleh dokter gigi,” imbau Prof Sindy mengakhiri penjelasannya.

Penulis: Fauziah Laili Romadhon 

Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT