¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Model Prognostik Kematian Akibat Stroke Iskemik di Rumah Sakit

Model Prognostik Kematian Akibat Stroke Iskemik di Rumah Sakit
Ilustrasi Pasien Stroke (Foto: kemenkes)

Pasien stroke jarang memiliki kelangsungan hidup yang memuaskan. Seringkali justru mengalami kondisi yang semakin memburuk jika pasien tersebut mengalami penyakit penyerta.  Terbatasnya ketersediaan data di negara-negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia, telah menghambat  penguraian  faktor-faktor  penentu  kematian  pasca  stroke.  Stroke atau penyakit serebrovaskular muncul karena  etiologi  iskemik  atau  hemoragik.  Secara global, stroke berkontribusi  terhadap  3,54%  dari  semua  penyebab  kematian  pada  tahun  1990  dan  4,62%  pada  tahun  2013. Meskipun  negara-negara  Asia  Tenggara  tidak  memiliki  laporan  lengkap  mengenai  angka  prevalensi  dan  insiden stroke namun, angka  kematian akibat stroke adalah  56–193,3/100.000  orang-tahun. 

Indonesia, Myanmar, dan Laos menduduki peringkat tertinggi untuk kematian terkait stroke iskemik di Asia Tenggara (masing-masing 193,3; 165,4; dan 141,3/100.000 orang-tahun). Dalam satu bulan, tingkat kematian kasus akibat stroke iskemik mencapai 13,5% di seluruh dunia  dan  10,8%  di  Asia. Identifikasi terhadap faktor-faktor penentu kematian sangat penting untuk membuat profil risiko pada pasien stroke iskemik termasuk hipertensi, diabetes, hiperkolesterolemia, dan  merokok. Pasien diabetes yang mengalami stroke memiliki risiko 2,15 kali lebih tinggi untuk mengalami kematian. Hipertensi, gagal jantung kronis, penyakit kardiovaskular  iskemik,  dan  fibrilasi  atrium  juga  berkontribusi  terhadap  kematian  pasca  stroke.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari Fakultas Kedokteran, ¶«¾©ÈÈ bekerjasama dengan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta melakukan penelitian untuk mengetahui prediktor kematian di rumah sakit pada pasien stroke iskemik/ ischemic stroke (IS).  Hasil penelitian tesebut berhasil dipublikasikan pada jurnal internasional terindeks Scopus (Q1) yaitu Plos One. Penelitian bersifat observasional  retrospektif dengan menggunakan  rekam  medis    dari  Rumah  Sakit  Pusat  Otak  Nasional,  Jakarta,  Indonesia. Adapun jumlah subjek penelitian yang terlibat adala 3.278 pasien IS, yang terdiri atas 917 (28%) di antaranya menderita penyakit kardiovaskular  dan  376  (11,5%)  menderita  penyakit  ginjal. 

Hasil penelitian menunjukkan, rata-rata usia pasien yang mengalami kematian pasca stroke adalah 64,06 ± 11,32 tahun, dengan rata-rata indeks massa tubuh (BMI) 23,77 kg/ m2  dan  median  skor  Glasgow  Coma  Scale  (GCS)  12  dan  IQR  5.  Penyakit kardiovaskular  secara  signifikan  dikaitkan  dengan  risiko  kematian  akibat stroke iskemik.  Skor National Institutes of Health StrokeScale (NIHSS) saat masuk, jenis kelamin laki-laki, dan kadar asam urat masing – masing memiliki tingkat prediksi kelangsungan hidup pasien stroke sebesar 1,04; 1,51; dan 1,02. Penyakit penyerta, seperti penyakit kardiovaskular mempunyai Hazard Ratio (HR)=2,16; pneumonia (HR=2,43) dan sepsis (HR=2,07) yang lebih tinggi untuk menyebabkan kematian pasca stroke.  Sebaliknya, faktor yang berkontribusi  terhadap  rendahnya  risiko kematian  adalah  BMI  (HR = 0,94) dan  GCS  (HR = 0,66). Sehingga, dapat diambil kesimpulan bahwa jenis kelamin laki-laki, NIHSS, kadar asam urat, penyakit kardiovaskular, pneumonia, sepsis, BMI, dan GCS saat masuk rumah sakit adalah penentu kuat kematian di rumah sakit pada pasien dengan stroke iskemik.

Penulis: Prof. Muhammad Miftahussurur, dr., M.Kes., Sp.PD., Ph.D

Link:

Baca juga: Robotika Canggih dan Rehabilitasi Pasca Stroke 

AKSES CEPAT