东京热

东京热 Official Website

Menyisir Jejak SARS-CoV-2 pada Primata Indonesia: Apa yang terungkap dari pemeriksaan 237 primata di lima provinsi selama pandemi COVID-19?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Selama pandemi COVID-19, perhatian dunia tertuju pada manusia. Namun virus penyebabnya, SARS-CoV-2, diketahui mampu berpindah antara manusia dan hewan. Pertanyaannya: apakah primata liar Indonesia ikut terpapar? Untuk pertama kalinya, tim peneliti dari 东京热 dan mitranya menjawab pertanyaan ini dengan menguji 237 ekor primata di lima provinsi.

Temuan utama Dari 237 primata yang diperiksa, tidak satu pun menunjukkan infeksi aktif SARS-CoV-2. Secara statistik, batas atas prevalensi infeksi di populasi ini diperkirakan hanya 鈮1,26%. Kabar baik bagi konservasi, sekaligus pengingat bahwa pengawasan tak boleh berhenti.

Mengapa primata perlu dipantau?

SARS-CoV-2 masuk ke dalam sel dengan menempel pada sebuah reseptor bernama ACE2, semacam 鈥済erbang鈥 di permukaan sel. Banyak primata, terutama kelompok kera Dunia Lama dan kera besar, memiliki bentuk gerbang ACE2 yang mirip sekali dengan milik manusia. Kemiripan inilah yang membuat mereka secara teori rentan tertular.

Indonesia adalah negara megadiversitas dengan kekayaan primata yang tinggi. Beberapa di antaranya, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), lutung (Trachypithecus spp.), owa (Hylobates spp.), dan orangutan (Pongo pygmaeus), diperkirakan rentan terhadap SARS-CoV-2. Karena sebagian hidup atau dirawat di lingkungan yang memungkinkan kontak dengan manusia, pemantauan (surveilans) diperlukan untuk mendeteksi kemungkinan infeksi sejak dini.

Bagaimana penelitian dilakukan?

Ini adalah studi potong lintang, artinya pengamatan dilakukan pada satu periode waktu tertentu. Sampel dikumpulkan pada 2021鈥2023 dari lima provinsi: Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, dan Sumatra Barat. Pengambilan dilakukan di kawasan konservasi in-situ (habitat alami) maupun ex-situ (pusat rehabilitasi atau penangkaran), menyisip pada kegiatan pemeriksaan kesehatan, translokasi, dan pengelolaan rutin satwa. Sebanyak 186 dari 237 primata (78,5%) berasal dari fasilitas ex-situ, tempat kontak dengan manusia paling sering terjadi.

Dari setiap hewan diambil usap hidung (nasofaring) dan tenggorokan (orofaring) secara berpasangan. Keberadaan materi genetik virus lalu diperiksa dengan qRT-PCR, teknik yang sama dengan tes PCR COVID-19 pada manusia. Pemeriksaan menargetkan dua bagian gen nukleokapsid virus (N1 dan N2), dan sampel dinyatakan positif hanya bila kedua target terdeteksi dengan nilai cycle threshold (Ct) 鈮35.

Hasilnya: tidak ada infeksi aktif

Nama ilmiahNama umumProvinsiJumlah
Macaca fascicularisMonyet ekor panjangJawa Timur, Bali73
Trachypithecus spp.LutungJawa Timur, Jawa Barat46
Hylobates spp.OwaJabar, Kalteng, Sumbar68
Pongo pygmaeusOrangutanKalimantan Tengah50
Total Semua negatif237

Tabel 1. Sebaran 237 primata yang diuji. Sekitar 78,5% (186 ekor) berasal dari konservasi ex-situ. Tak satu pun sampel positif SARS-CoV-2.

Hasil pemeriksaan seluruh 237 primata menunjukkan tidak adanya bukti molekuler infeksi aktif SARS-CoV-2. Tidak satu pun sampel menghasilkan amplifikasi target N1 maupun N2, dan tidak ada hasil borderline (nilai Ct yang mendekati batas) maupun reaktivitas pada hanya salah satu target. Ini merupakan skrining molekuler pertama untuk SARS-CoV-2 pada beragam jenis primata di Indonesia.

Dengan pendekatan rule of three untuk hasil nol positif, peneliti memperkirakan batas atas prevalensi infeksi aktif yang masih sejalan dengan data ini adalah 鈮1,26% pada populasi yang disampel. Angka ini memberi gambaran kuantitatif tentang tingkat infeksi yang mungkin luput terdeteksi.

Hasil negatif bukan berarti risiko hilang

Para penulis jujur soal keterbatasan. Tes PCR terutama mendeteksi infeksi yang sedang berlangsung, sehingga hasil negatif tidak menyingkirkan kemungkinan primata pernah terpapar SARS-CoV-2 di masa lalu kemudian sembuh. Untuk melacak riwayat paparan, penelitian selanjutnya perlu menambahkan uji serologis, yaitu pemeriksaan antibodi terhadap protein spike atau nukleokapsid.

Selain itu, sampel baru diambil dari lima dari 38 provinsi, dan sebagian besar dari fasilitas ex-situ. Karena itu, hasil ini belum tentu mewakili kondisi seluruh populasi primata liar Indonesia. Pemeriksaan pada satu titik waktu juga hanya memotret keadaan saat pengambilan sampel.

Mengapa pemantauan harus berlanjut?

Peneliti merekomendasikan perluasan wilayah surveilans, penambahan jumlah dan ragam sampel, serta penggabungan pemeriksaan molekuler dan serologis. Langkah ini penting untuk memahami dinamika penularan dan mendeteksi kemungkinan spillover (dari manusia ke hewan) maupun spillback (dari hewan ke manusia).

Tidak adanya infeksi aktif pada 237 primata adalah hasil yang menggembirakan. Namun pemantauan kesehatan satwa tetap diperlukan, terutama bagi spesies terancam punah seperti orangutan. Pendekatan One Health, yang memandang kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan dapat menjadi landasan penting untuk pencegahan penyakit sekaligus perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia.

Informasi publikasi Judul:  Molecular screening for active severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 infections among non-human primates in Indonesia Jurnal:  The Journal of Veterinary Medical Science, 88(7): 1086鈥1091 (2026) DOI:  10.1292/jvms.25-0544 Diterima:  26 November 2025  路  Disetujui: 19 April 2026

AKSES CEPAT