Kejadian diare berhubungan dengan kondisi lingkungan , perilaku kebersihan , makanan yang dikonsumsi , pengolahan dan penyajian makanan serta daya tahan tubuh. Diare adalah kondisi yang ditandai buang air besar lebih dari tiga kali dalam sehari dengan konsistensi encer. Kejadian Diare sering diiringi dengan rasa mual, perut nyeri. Kejadian Diare yang tidak tertangani dapat menyebabkan komplikasi dan kematian. Dehidrasi akibat menderita Diare harus secepatnya tertangani. Komplikasi yang muncul akibat Kejadian Diare yang tidak teratasi dapat menyebabkan kefatalan seperti kejang, gangguan irama jantung, kesadaran menurun. Kejadian Diare dapat mengganggu aktifitas sehari-hari, sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan produktifitas. Kejadian Diare dapat dialami oleh semua umur. Pada bayi dan balita kejadian Diare dapat mempengaruhi status gizi yang pada akhirnya mengakibatkan stunting dan perkembangan organ tubuh. Pada anak sekolah dan remaja kejadian Diare menyebabkan aktifitas seperti kegiatan sekolah terganggu, sedangkan pada usia produktif menyebabkan aktifitas bekerja terhambat sehingga produktifitas menurun yang mengakibatkan pendapatan berkurang. Lingkungan yang buruk seperti pencemaran air karena paparan tinja dapat mempengaruhi kontaminasi terhadap bakteri maupun virus yang merupakan penyebab diare. Pengolahan air yang menghasilkan air yang berkualitas akan menurunkan kejadian Diare. Kualitas air tidak hanya memenuhi syarat fisik saja tapi juga kimia dan mikroba. Kontaminasi tinja menyebabkan air terkontaminasi bakteri. Di dalam air minum tidak boleh ditemukan Coliform. Air minum di masyarakat dapat bersumber dari air sumur, air hasil olahan perusahaan daerah air minum dan air yang diolah oleh perusahaan swasta. Paparan bakteri dan virus tidak hanya berasal dari air saja tapi juga dari bahan makanan , seperti daging ayam. Ayam yang disembelih tidak bersih dapat tercemar bakteri Salmonella typhi karena lingkungan tempat menyembelih yang kotor. Pengolahan makanan yang berbahan daging ayam harus matang supaya Bakteri Salmonella typhi mati sehingga tidak menyebabkan penyakit Tipes. Penyakit Tipes ( Demam Typhoid) termasuk penyakit gangguan pencernaan yang disebabkan oleh Bakteri Salmonella typhi. Pengelolahan bahan makanan menjadi makanan harus dilakukan oleh pemasak dengan memperhatikan kebersihan. Kontaminasi bakteri dan virus ke bahan makanan yang diolah dapat dikarenakan pengolah makanan tidak cuci tangan dengan sabun sebagai antiseptik, sehingga tangan masih terpapar bakteri dan virus misalnya setelah buang air besar. Lalat merupakan vektor yang dapat memindahkan bakteri dan virus dari tinja ke makanan. Makanan yang disajikan harus tertutup sehingga tidak dihinggapi lalat. Kepadatan lalat di lingkungan masyarakat perlu diturunkan dan kalau perlu diusahan lalat di lingkungan tidak ada. Kepadatan lalat terjadi karena manajemen pengelolahan sampah yang kurang baik. Tempat sampat sebaiknya tertutup. Keberadaan sampah dimasyarakat seharusnya tidak tertimbun, oleh karena perlu manajemen pengangkutan sampah yang baik. Selain sampah, faktor lain yang menyebabkan peningkatan kejadian penyakit Diare adalah kepemilikan jamban di keluarga. Pembuangan tinja yang terbuka memungkinkan lalat dapat hinggap di tinja dan memindahkan bakteri dan virus ke makanan. Keberadaan jamban akan meniadakan peluang lalat hinggap di tinja. Selain lingkungan, bahan makanan dan pengolahan serta penyajian makanan yang harus dikendalikan, hal lain yang perlu ditingkatkan daya tahan tubuh dalam melawan infeksi bakteri dan virus di dalam tubuh. Peningkatan daya tahan tubuh ini adalah dengan meningkatkan asupan makanan yang dapat melawan bakteri dan virus yaitu bahan makanan yang mengandung protein, Vitamin C dan D serta mineral Zn.
Penulis : Lucia Yovita Hendrati
Daftar Pustaka
Lucia Yovita Hendrati. Spatial distribution and diarrhea risk from Coliform contaminated water in surabaya, 2023. Jurnal Berkala Epidemiologi. 14 (2), 168-177.
Pocut Syifa Sulaiman, Pratami Adityaningsari, Eri Dian Maharsi, Muhammad Fazlurrahman Anshar. Identifikasi Bakteri Salmonella Sp. pada Ayam Potong di Beberapa Pasar Tradisional. Junior Medical Journal. 3 (5), 792-802.





