Krisis iklim yang semakin nyata tidak hanya menimbulkan dampak fisik dan lingkungan, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Meningkatnya kesadaran terhadap perubahan iklim telah dikaitkan dengan berbagai respons emosional, mulai dari kekhawatiran hingga kecemasan, serta dengan gangguan tidur, gejala depresi, dan penurunan kesejahteraan mental. Dalam literatur psikologi iklim, dua istilah yang paling sering digunakan adalah climate change worry atau kekhawatiran terhadap perubahan iklim dan climate change anxiety atau kecemasan iklim. Keduanya kerap dipakai secara bergantian, padahal belum tentu merepresentasikan pengalaman psikologis yang sama.
Kekhawatiran terhadap perubahan iklim terutama bersifat kognitif. Individu memikirkan kemungkinan dampak perubahan iklim terhadap dirinya, orang terdekat, generasi mendatang, masyarakat yang lebih rentan, maupun alam. Kekhawatiran semacam ini melibatkan proses penilaian risiko dan pemikiran mengenai konsekuensi yang mungkin terjadi. Karena itu, worry dapat berfungsi sebagai tahap awal dalam proses coping: seseorang menyadari ancaman, memikirkan dampaknya, kemudian berusaha menyiapkan respons terhadap masalah tersebut.
Sebaliknya, kecemasan iklim lebih menekankan respons afektif terhadap ancaman perubahan iklim. Kecemasan ditandai oleh perasaan tidak nyaman, tegang, gelisah, atau takut ketika menghadapi ancaman yang tidak pasti. Dalam penelitian ini, kecemasan iklim dioperasionalkan sebagai state climate anxiety, yaitu intensitas emosi negatif yang dirasakan seseorang terhadap perubahan iklim pada saat tertentu tanpa memasukkan gejala gangguan fungsi sehari-hari. Dengan demikian, penelitian ini membedakan kekhawatiran sebagai proses yang lebih berorientasi pada penilaian dan pemikiran, sedangkan kecemasan lebih berorientasi pada reaktivitas emosional.
Pembedaan tersebut penting karena apabila kekhawatiran dan kecemasan diperlakukan sebagai konsep yang sama, penelitian dapat mencampurkan dua mekanisme psikologis yang berbeda. Hal ini dapat menghasilkan kesimpulan yang tidak konsisten mengenai dampak emosi terkait perubahan iklim terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan. Penelitian ini karena itu bertujuan menguji secara empiris apakah climate change worry dan state climate anxiety memang dapat dibedakan berdasarkan hubungannya dengan dua indikator kesejahteraan subjektif, yaitu kesejahteraan mental dan kepuasan hidup.
Data penelitian berasal dari survei lintas negara yang melibatkan 12.246 partisipan dari 32 negara dan dikumpulkan antara 2019 hingga 2022. Sekitar 63,9% partisipan adalah perempuan dan rata-rata usia partisipan sekitar 23 tahun. Pengumpulan data dilakukan secara daring maupun menggunakan kuesioner kertas sesuai dengan kondisi di masing-masing negara, dengan partisipan terutama direkrut dari populasi mahasiswa.
Kekhawatiran terhadap perubahan iklim diukur menggunakan lima item yang menanyakan seberapa khawatir partisipan terhadap dampak perubahan iklim bagi dirinya sendiri, orang yang dicintai, generasi mendatang, masyarakat di negara yang secara ekonomi kurang beruntung, serta hewan dan alam. State climate anxiety diukur menggunakan tujuh item yang meminta partisipan menilai perasaan mereka terhadap perubahan iklim pada saat pengukuran, antara lain merasa tenang, tegang, rileks, cemas, damai, khawatir, atau takut. Kesejahteraan mental diukur menggunakan WHO-5 Wellbeing Index, sedangkan kepuasan hidup diukur menggunakan satu pertanyaan mengenai kepuasan terhadap kehidupan secara umum.
Hasil penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa climate change worry dan state climate anxiety memang berhubungan, tetapi keduanya tidak dapat dianggap sebagai konsep yang sama. Hubungan antara keduanya berbeda cukup besar antarnegara. Varians bersama antara kekhawatiran dan kecemasan iklim hanya sekitar 1,2% di Mesir, tetapi mencapai sekitar 47% di Finlandia. Secara keseluruhan, korelasi keduanya berada pada tingkat sedang, yang menunjukkan bahwa seseorang dapat merasa khawatir terhadap perubahan iklim tanpa selalu mengalami tingkat kecemasan emosional yang sama.
Perbedaan paling jelas terlihat ketika keduanya dikaitkan dengan kesejahteraan mental. Pada keseluruhan sampel, state climate anxiety memiliki hubungan negatif yang lebih kuat dengan WHO-5 Wellbeing Index dibandingkan climate change worry. Kecemasan iklim berkorelasi sekitar -0,24 dengan kesejahteraan mental, sementara kekhawatiran perubahan iklim hanya sekitar -0,05. Pola yang sama ditemukan pada kepuasan hidup: kecemasan iklim memiliki hubungan negatif yang lebih kuat dengan kepuasan hidup dibandingkan kekhawatiran terhadap perubahan iklim.
Temuan lintas negara memperkuat pola tersebut. State climate anxiety berhubungan negatif secara signifikan dengan kesejahteraan mental pada sekitar 87,5% negara yang diteliti, sedangkan climate change worry hanya menunjukkan hubungan signifikan pada sekitar 18,8% negara. Untuk kepuasan hidup, state climate anxiety berhubungan negatif secara signifikan pada 75% negara, sementara climate change worry hanya pada sekitar 28,1% negara. Dengan demikian, kecemasan iklim tampak lebih konsisten berkaitan dengan rendahnya kesejahteraan subjektif dibandingkan kekhawatiran terhadap perubahan iklim.
Data Indonesia juga menunjukkan pola yang sama. Tingkat rata-rata kekhawatiran terhadap perubahan iklim pada sampel Indonesia relatif tinggi, tetapi hubungan antara worry dan anxiety tidak terlalu besar dibandingkan beberapa negara Barat. Ketika dibandingkan berdasarkan hubungannya dengan kesejahteraan, state climate anxiety menunjukkan hubungan negatif yang lebih kuat daripada climate change worry, baik untuk kesejahteraan mental maupun kepuasan hidup. Hal ini menegaskan bahwa tingginya kepedulian atau kekhawatiran terhadap isu iklim tidak otomatis berarti seseorang mengalami kecemasan psikologis yang berat.
Temuan penelitian ini penting bagi komunikasi perubahan iklim. Pesan mengenai krisis iklim memang perlu menumbuhkan perhatian dan kepedulian publik, tetapi peningkatan perhatian tidak harus dilakukan dengan memperkuat kecemasan. Kekhawatiran yang konstruktif dapat mendorong individu menilai risiko dan mempertimbangkan tindakan, sedangkan kecemasan yang terlalu kuat lebih konsisten berkaitan dengan penurunan kesejahteraan subjektif dan berpotensi menimbulkan rasa kewalahan. Karena itu, komunikasi iklim perlu mendorong concern yang realistis sekaligus memberikan rasa mampu bertindak, dukungan psikososial, serta akses terhadap strategi coping yang berbasis bukti.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Data bersifat cross-sectional sehingga tidak dapat menunjukkan bahwa kecemasan iklim menyebabkan penurunan kesejahteraan; arah hubungan sebaliknya juga mungkin terjadi. Data juga berasal dari laporan diri dan sebagian besar partisipannya adalah mahasiswa atau dewasa muda, sehingga generalisasi terhadap populasi yang lebih luas perlu dilakukan secara hati-hati. Selain itu, perbedaan bahasa dan norma sosial antarnegara dapat memengaruhi bagaimana orang memahami dan melaporkan pengalaman khawatir maupun cemas. Penelitian longitudinal dan penelitian lintas budaya yang lebih mendalam diperlukan untuk memahami bagaimana kedua respons emosional tersebut berkembang dari waktu ke waktu dan bagaimana masing-masing memengaruhi perilaku terkait perubahan iklim.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa climate change worry dan state climate anxiety sebaiknya tidak digunakan sebagai istilah yang saling menggantikan. Keduanya merepresentasikan respons psikologis yang berhubungan tetapi berbeda. Kecemasan iklim memiliki hubungan negatif yang lebih konsisten dan lebih kuat dengan kesejahteraan mental dan kepuasan hidup, sedangkan kekhawatiran terhadap perubahan iklim tampak lebih dekat dengan bentuk perhatian kognitif terhadap ancaman. Pembedaan ini penting agar penelitian, kebijakan, dan komunikasi perubahan iklim dapat mendorong keterlibatan publik tanpa secara tidak perlu memperburuk kesejahteraan psikologis masyarakat.
Penulis: Dr. Rahkman Ardi
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Lee, E. H., Ogunbode, C. A., Aquino, S., Bhullar, N., Albzour, M., Ardi, R., et al. (2026). Distinguishing climate change worry from state climate anxiety across 32 countries: Implications for subjective wellbeing. Journal of Environmental Studies and Sciences. https://doi.org/10.1007/s13412-026-01120-0





