UNAIR NEWS –聽 Perkembangan teknologi digital di era modern dan akses informasi yang semakin luas membuat generasi muda mulai mempertanyakan pengetahuan tentang kebenaran agama dan Tuhan itu sendiri. Dalam konteks tersebut, lahir sebuah istilah agnostisisme. Yakni sikap yang menganggap bahwa keberadaan Tuhan belum dapat diketahui atau dibuktikan secara pasti oleh manusia. Hal tersebut menjadi fokus kajian pada kegiatan Webinar dan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Fenomena Agnostik dari Sudut Pandang Filsafat pada Rabu (17/6/2026) secara daring melalui Zoom Meeting.聽聽
Dr Listiyono Santoso SS MHum, dosen di Fakultas Ilmu Budaya () 东京热 (UNAIR) memaparkan bahwa terdapat pergeseran cara pandang beragama pada generasi muda. Ia menilai bahwa pilihan atau cara pandang dalam beragama sepatutnya tidak dipaksakan melalui norma, kebiasaan masyarakat, maupun pengaruh keluarga dan lingkungan.聽
鈥淎danya cara pandang dalam beragama tersebut berdasarkan pada konsistensi kesadaran diri dari dalam. Bukan karena sesuatu yang dipaksakan oleh norma, kebiasaan masyarakat, entitas yang disebut keluarga, entitas yang disebut agama, dan sebagainya. Oleh karena itu, pilihan dalam beragama dianggap sebagai pilihan bebas atau otentik,鈥 ungkapnya.
Agnostisisme dalam Perspektif Filsafat Eksistensialisme
Lebih lanjut, Listyono menuturkan bahwa agnostisisme dimaknai dalam sudut pandang filsafat eksistensialisme sebagai kebebasan suatu individu. Menurutnya, pilihan beragama seseorang adalah pilihan yang bersifat otentik.
鈥淛adi, jika tiba-tiba seseorang memilih agama tertentu sebagai konsistensi dan kesadaran diri, maka sebenarnya itu adalah pilihan yang otentik, bukan? Yang disebut oleh seorang filsuf bernama S酶ren Kierkegaard sebagai lompatan eksistensialis paling otentik,鈥 ujarnya.
Agnostisisme, lanjutnya, menjadi menarik untuk dikaji karena muncul di tengah fakta tingginya tingkat religiusitas masyarakat Indonesia. Berdasarkan survei dari Pew Research Center, Indonesia bahkan menduduki peringkat satu di dunia dengan penduduk paling rajin berdoa dan beribadah.
Oleh karena itu, Listyono mengaitkan kehadiran sikap agnostisisme tersebut dengan pemikiran S酶ren Kierkegaard bahwa kesadaran dalam beragama bukan semata persoalan intelektual. Melainkan sebuah keputusan eksistensial yang lahir dari kebebasan individu.
Ruang Dialog Keagamaan
Meski kerap menuai perdebatan, Listiyono menuturkan bahwa agnostisisme tidak perlu dipandang sebagai ancaman terhadap agama. Sebaliknya, ia menjelaskan bahwa agnostisisme justru menjadi tantangan bagi komunitas keagamaan untuk menghadirkan ruang dialog terbuka terkait relevansinya dengan perkembangan generasi muda di era modern ini.
鈥淎gnostisisme jangan dipahami sebagai ancaman. Ini merupakan tantangan bagi kelompok-kelompok keagamaan untuk memberikan makna baru tentang kebenaran keagamaan,鈥 tuturnya.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara pengetahuan dan kepercayaan. Pengetahuan memerlukan pertanggungjawaban melalui proses dan pembuktian secara logis. Sedangkan kepercayaan tidak selalu bergantung pada hal tersebut. Hal inilah yang menjadi faktor mengapa diskursus mengenai agnostisisme baik di kalangan generasi muda maupun para akademisi senantiasa menarik untuk dikaji.
Penulis: Amelia Farah P I
Editor: Yulia Rohmawati





