东京热

东京热 Official Website

Masturbasi dalam Hubungan Jarak Jauh: Pelarian, Adaptasi, atau Bentuk Keintiman Baru?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Long-distance marriage (LDM) atau pernikahan/hubungan jarak jauh adalah kondisi ketika pasangan suami-istri harus tinggal terpisah dalam periode tertentu karena pekerjaan, pendidikan, tugas dinas, atau alasan ekonomi. Dalam situasi ini, pasangan tidak dapat melakukan interaksi fisik maupun seksual secara rutin seperti selayaknya pasangan yang tinggal serumah.

Fenomena ini semakin sering ditemukan di era modern. Banyak pasangan harus menjalani hubungan terpisah kota bahkan negara demi karier atau pendidikan. Di Indonesia sendiri, kondisi ini umum terjadi pada pekerja migran, tenaga kesehatan, pekerja tambang, maupun pasangan yang sedang menempuh studi di luar daerah atau luar negeri.

Biasanya pasangan mengakali hubungan jarak jauh ini dengan menggantikan keintiman melalui media komunikasi. Namun meskipun teknologi komunikasi membantu pasangan tetap terhubung, jarak tetap membawa tantangan tersendiri, terutama dalam aspek keintiman emosional dan seksual. Tidak sedikit pasangan yang mengalami kesepian, perubahan pola komunikasi, hingga penurunan frekuensi hubungan seksual. Dalam kondisi inilah sebagian individu mencari bentuk adaptasi seksual lain, termasuk masturbasi.

Berbicara tentang masturbasi sering dianggap topik tabu, terutama ketika dibicarakan dalam konteks hubungan jarak jauh. Namun sebuah systematic review terbaru yang dipublikasikan di The Journal of Sexual Medicine menunjukkan bahwa masturbasi sebenarnya dapat menjadi salah satu strategi adaptasi seksual dan psikologis pada pasangan yang menjalani long-distance relationship (LDR).

Penelitian tersebut meninjau 14 studi dari berbagai negara dengan hampir 9000 partisipan. Hasilnya menunjukkan bahwa ketika pasangan terpisah oleh jarak, pekerjaan, pendidikan, atau bahkan pembatasan sosial seperti masa pandemi COVID-19, banyak individu mencari cara untuk mempertahankan kebutuhan seksual dan kedekatan emosional. Salah satunya adalah masturbasi.

Menariknya, motivasi melakukan masturbasi ternyata berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki, masturbasi lebih sering dikaitkan dengan pelepasan hasrat seksual, orgasme, dan pengurangan stres biologis. Sementara pada perempuan, alasannya cenderung lebih luas, seperti relaksasi, membantu tidur, mengurangi kecemasan, hingga menjaga rasa kedekatan emosional dengan pasangan.

Dalam hubungan jarak jauh, masturbasi juga tidak selalu dilakukan secara sepenuhnya 鈥渟endiri鈥�. Beberapa studi kualitatif dari Indonesia menunjukkan adanya praktik masturbasi melalui video call bersama pasangan sebagai cara mempertahankan keintiman di tengah keterpisahan fisik. Aktivitas ini dipandang sebagian pasangan sebagai bentuk adaptasi untuk menjaga keharmonisan rumah tangga dan mencegah frustrasi seksual.

Namun penelitian ini juga menekankan bahwa dampaknya tidak selalu positif. Masturbasi dalam frekuensi yang sangat tinggi atau dilakukan secara berlebihan justru dikaitkan dengan penurunan kepuasan seksual, meningkatnya stres, bahkan menurunnya kualitas hubungan. Pada beberapa individu, masturbasi tidak sepenuhnya mampu menggantikan kehangatan emosional dan kedekatan fisik dari hubungan seksual bersama pasangan.

Aspek budaya dan agama juga berperan besar. Di negara-negara Barat, masturbasi lebih sering dipandang sebagai perilaku seksual yang netral atau bagian dari eksplorasi diri. Sebaliknya, di banyak negara Timur termasuk Indonesia, masturbasi masih sering dikaitkan dengan rasa bersalah, stigma moral, dan norma agama. Hal ini membuat pengalaman psikologis setiap individu menjadi sangat berbeda tergantung konteks sosial dan budaya tempat mereka hidup.

Secara keseluruhan, review ini menunjukkan bahwa masturbasi bukan sekadar perilaku biologis, tetapi juga bagian dari proses adaptasi psikologis dan relasional manusia. Dalam situasi tertentu seperti hubungan jarak jauh, masturbasi dapat membantu sebagian individu mengelola stres, mempertahankan keintiman, dan menyalurkan kebutuhan seksual. Namun kualitas komunikasi pasangan, keseimbangan perilaku seksual, dan konteks budaya tetap menjadi faktor penting yang menentukan apakah perilaku tersebut bersifat membantu atau justru menimbulkan masalah.

Penulis: Cennikon Pakpahan, dr., Sp.And

Referensi: Kusuma NHS, Irnandi DF, Pakpahan C, Nguyen TTA. Masturbation as a sexual and psychological coping strategy in long-distance relationships: a systematic review. J Sex Med. 2026;23(5):qdag121. doi:10.1093/jsxmed/qdag121.

AKSES CEPAT