Di balik riuh lalu lintas, kawasan industri, dan padatnya permukiman kota, ada makhluk hidup yang diam-diam merekam kualitas lingkungan kita: kucing jalanan. Hewan yang kerap terlihat mencari makan di pasar, gang permukiman, terminal, hingga kawasan industri itu ternyata dapat menjadi petunjuk penting untuk membaca jejak pencemaran logam berat, terutama timbal atau lead (Pb), di wilayah urban.
Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan pada kucing betina jalanan di Jakarta dan Surabaya menunjukkan bahwa hewan-hewan tersebut mengalami paparan timbal secara kronis. Paparan itu belum sampai menimbulkan tanda keracunan akut atau perubahan mencolok pada struktur ovarium. Namun, temuan ini tetap menjadi peringatan penting: pencemaran timbal di lingkungan kota tidak selalu hadir dalam bentuk bencana yang terlihat, melainkan dapat bekerja perlahan, senyap, dan berlangsung dalam jangka panjang.
Penelitian ini menempatkan kucing jalanan sebagai bioindikator lingkungan. Dalam ilmu kedokteran hewan dan kesehatan lingkungan, bioindikator adalah organisme yang dapat memberikan gambaran tentang kondisi lingkungan tempat ia hidup. Kucing jalanan dinilai relevan karena hidup sangat dekat dengan aktivitas manusia. Mereka menghirup udara kota, bersentuhan dengan tanah, meminum air dari lingkungan sekitar, serta memperoleh makanan dari sumber yang tidak selalu higienis. Dengan demikian, tubuh mereka dapat mencerminkan paparan polutan yang juga berpotensi mengancam manusia.
Fokus utama penelitian ini adalah melihat kadar timbal dalam darah kucing betina jalanan serta mengamati kondisi organ reproduksinya, terutama ovarium. Ovarium dipilih karena organ ini sangat sensitif terhadap gangguan lingkungan, termasuk paparan logam berat. Pada banyak spesies mamalia, timbal diketahui dapat memicu stres oksidatif, mengganggu keseimbangan hormon, merusak kualitas sel telur, dan dalam jangka panjang berpotensi menurunkan fungsi reproduksi.
Penelitian dilakukan terhadap sembilan ekor kucing betina dewasa yang hidup bebas di kawasan urban dan industri Jakarta serta Surabaya. Sampel darah diambil untuk mengukur kadar timbal, sedangkan jaringan ovarium diperiksa melalui pengukuran berat organ dan analisis histomorfometri folikel. Pemeriksaan histomorfometri memungkinkan peneliti melihat ukuran dan bentuk struktur mikroskopis ovarium, termasuk folikel primordial, primer, sekunder, tersier, hingga folikel de Graaf.
Hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan kadar timbal darah antara kucing dari Jakarta dan Surabaya. Rata-rata kadar timbal darah pada kucing dari Jakarta tercatat 1,24 卤 0,15 mg/dl, sedangkan pada kucing dari Surabaya sebesar 1,36 卤 0,24 mg/dl. Angka Surabaya memang sedikit lebih tinggi, tetapi secara statistik tidak berbeda bermakna. Temuan ini menunjukkan bahwa beban paparan timbal pada kucing jalanan di dua kota besar tersebut relatif serupa.
Hasil serupa juga terlihat pada berat ovarium. Berat ovarium kanan dan kiri kucing dari Jakarta serta Surabaya tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Begitu pula dengan ukuran folikel ovarium pada berbagai tahap perkembangan. Folikel primordial, primer, sekunder, dan de Graaf pada dua kelompok kucing menunjukkan dimensi yang relatif konsisten. Pada folikel tersier, jumlah data tidak cukup untuk dilakukan analisis statistik yang kuat.
Pemeriksaan histologi juga memperlihatkan struktur ovarium yang masih terjaga. Folikel-folikel tampak memiliki susunan yang normal, dengan oosit, lapisan sel granulosa, dan struktur teka yang masih dapat dikenali dengan jelas. Tidak ditemukan perubahan histopatologis nyata seperti degenerasi folikel, fibrosis stroma, atau infiltrasi sel radang. Secara morfologis, ovarium kucing dari Jakarta dan Surabaya masih tampak utuh.
Namun, justru di sinilah pesan penting penelitian ini perlu dibaca secara hati-hati. Tidak ditemukannya perubahan struktur ovarium bukan berarti paparan timbal dapat dianggap aman. Dalam toksikologi lingkungan, banyak efek bahan pencemar tidak langsung terlihat pada bentuk organ. Gangguan bisa terjadi pada tingkat yang lebih halus, misalnya pada fungsi hormon, metabolisme sel, kualitas oosit, stres oksidatif, atau ekspresi molekuler tertentu.
Dengan kata lain, organ yang tampak normal belum tentu sepenuhnya bebas dari gangguan biologis. Penelitian ini memang tidak mengukur parameter hormon, biokimia, atau molekuler. Karena itu, kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa pada tingkat paparan yang diamati, timbal belum menimbulkan perubahan morfologi ovarium yang nyata. Tetapi potensi dampak subklinis jangka panjang tetap tidak boleh diabaikan.
Dalam konteks One Health, hasil penelitian ini memiliki arti luas. One Health menekankan keterhubungan antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan. Bila kucing jalanan menunjukkan adanya paparan timbal, maka lingkungan yang sama juga menjadi ruang hidup manusia. Anak-anak, pekerja informal, pedagang kaki lima, pengendara, dan masyarakat yang tinggal dekat kawasan padat lalu lintas atau industri dapat menghadapi risiko serupa melalui udara, debu, tanah, air, maupun rantai makanan.
Timbal sendiri dikenal sebagai logam berat yang persisten. Artinya, ia tidak mudah hilang dari lingkungan. Setelah masuk ke tanah, air, atau tubuh organisme, timbal dapat bertahan lama dan terakumulasi. Pada manusia, paparan timbal dalam jangka panjang dikaitkan dengan gangguan saraf, perkembangan anak, fungsi ginjal, tekanan darah, serta kesehatan reproduksi. Pada hewan, dampaknya juga dapat meliputi gangguan darah, saraf, dan sistem reproduksi.
Penelitian ini juga memperlihatkan pentingnya pemantauan kesehatan satwa urban. Selama ini, kucing jalanan sering hanya dilihat sebagai bagian dari masalah populasi hewan liar di kota. Padahal, mereka juga dapat membantu memberi informasi ekologis. Melalui pendekatan ilmiah, kucing jalanan dapat menjadi 鈥減enjaga senyap鈥 yang memberi sinyal awal mengenai kualitas lingkungan tempat manusia hidup.
Meski demikian, hasil penelitian ini perlu dibaca dengan proporsional. Jumlah sampel relatif terbatas karena penelitian pada hewan jalanan memiliki tantangan etik dan teknis. Penangkapan, pemeriksaan, tindakan bedah, serta pengambilan jaringan harus memperhatikan kesejahteraan hewan. Karena itu, penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar, cakupan wilayah lebih luas, serta pemeriksaan hormon dan biomarker molekuler sangat diperlukan.
Ke depan, pemantauan timbal di kota besar tidak cukup hanya dilakukan pada udara atau air. Pemeriksaan pada hewan urban dapat menjadi pelengkap penting. Pemerintah daerah, akademisi, dokter hewan, ahli lingkungan, dan komunitas pemerhati satwa perlu membangun sistem pengawasan yang terintegrasi. Tujuannya bukan hanya melindungi kucing jalanan, tetapi juga menjaga kesehatan masyarakat.
Temuan dari Jakarta dan Surabaya ini memberi pesan yang jelas: pencemaran kota tidak selalu menimbulkan luka yang langsung tampak. Kadang, ia tersimpan dalam darah makhluk hidup yang berbagi ruang dengan manusia. Kucing jalanan, yang selama ini sering luput dari perhatian, ternyata dapat membantu kita membaca tanda-tanda kecil dari persoalan lingkungan yang lebih besar.
Sumber artikel:
DOI:
Website jurnal:
Artikel ilmiah: Ovarian gonadal histomorphometric as bioindicators of lead contamination in stray cats from Jakarta and Surabaya, Indonesia
Author lengkap: Ragil Angga Prastiya, Raket Wonggo Murgiyana, Tutus Multianingsih, Trilas Sardjito, Amung Logam Saputro, Nagia Musa Alghoul, dan Samira Musa Sasi.





