Tumor otak merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi tantangan dalam dunia kedokteran. Salah satu jenis yang sering ditemukan pada orang dewasa adalah glioma difus, yaitu tumor yang tumbuh menyebar ke jaringan otak di sekitarnya sehingga sulit diangkat secara sempurna melalui operasi. Dua jenis glioma yang paling sering ditemukan adalah astrocytoma dan oligodendroglioma. Meskipun tampak mirip, keduanya memiliki cara pengobatan dan peluang kesembuhan yang berbeda, sehingga diagnosis yang tepat sangat penting.
Saat ini, diagnosis glioma idealnya didukung oleh pemeriksaan molekuler yang dapat mengidentifikasi perubahan genetik pada sel tumor. Namun, pemeriksaan tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar dan belum tersedia di semua rumah sakit. Oleh karena itu, diperlukan metode yang lebih sederhana dan terjangkau.
Salah satu metode yang banyak digunakan adalah imunohistokimia (IHK), yaitu pemeriksaan jaringan tumor menggunakan pewarna khusus untuk mendeteksi protein tertentu. Dalam penelitian ini, tiga protein yang diteliti adalah ATRX, GFAP, dan OLIG2. Ketiga protein tersebut dapat membantu dokter mengenali jenis sel asal tumor sehingga mempermudah penentuan diagnosis.
Hasil penelitian
Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan ekspresi protein ATRX dan OLIG2 antara astrocytoma dan oligodendroglioma, sedangkan GFAP tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Temuan ini mengindikasikan bahwa ATRX dan OLIG2 memiliki peran yang lebih kuat dalam membantu membedakan kedua jenis tumor tersebut dibandingkan GFAP.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ATRX memiliki performa diagnostik terbaik dibandingkan dua biomarker lainnya, yaitu GFAP dan OLIG2, dalam membedakan astrocytoma dan oligodendroglioma. ATRX menunjukkan sensitivitas sebesar 100%, yang berarti seluruh kasus oligodendroglioma dalam penelitian ini dapat teridentifikasi dengan baik menggunakan biomarker tersebut. Selain itu, ATRX memiliki spesifisitas sebesar 70,3% dan akurasi sebesar 78,9%, yang menunjukkan kemampuan yang cukup tinggi dalam membedakan kedua jenis tumor tersebut secara tepat. Sebaliknya, OLIG2 dan GFAP memiliki nilai akurasi yang lebih rendah sehingga kurang optimal apabila digunakan secara tunggal sebagai penanda diagnostik. Temuan ini menegaskan bahwa ATRX merupakan biomarker yang paling andal dan berpotensi menjadi komponen utama dalam algoritma diagnostik glioma, terutama pada praktik patologi sehari-hari dan di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan pemeriksaan molekuler.
Dari ketiga biomarker yang diteliti, ATRX menunjukkan performa diagnostik terbaik. Hal ini berarti pemeriksaan ATRX memiliki kemampuan yang lebih tinggi dalam membantu dokter menentukan apakah suatu glioma termasuk astrocytoma atau oligodendroglioma. Temuan ini sejalan dengan perkembangan klasifikasi tumor otak modern yang menempatkan ATRX sebagai salah satu penanda penting dalam diagnosis glioma.
Meskipun GFAP selama ini sering digunakan sebagai penanda sel glia, penelitian ini menunjukkan bahwa protein tersebut ditemukan pada kedua jenis tumor sehingga kemampuannya untuk membedakan astrocytoma dan oligodendroglioma relatif terbatas. Demikian pula dengan OLIG2 yang meskipun menunjukkan perbedaan ekspresi, akurasinya masih berada di bawah ATRX.
Hasil penelitian ini memberikan pesan penting bahwa penggunaan satu biomarker saja belum tentu cukup untuk menegakkan diagnosis secara optimal. Kombinasi ATRX, GFAP, dan OLIG2 dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai karakteristik tumor. Pendekatan ini dapat meningkatkan kepercayaan dokter dalam menentukan diagnosis, terutama ketika pemeriksaan molekuler tidak tersedia.
Manfaat bagi Pelayanan Kesehatan di Indonesia
Keterbatasan akses terhadap pemeriksaan molekuler di banyak rumah sakit di Indonesia menjadikan imunohistokimia sebagai alternatif yang lebih realistis dan terjangkau. Melalui pemanfaatan biomarker ATRX, GFAP, dan OLIG2, dokter patologi dapat memperoleh informasi diagnostik yang lebih akurat tanpa harus selalu bergantung pada pemeriksaan molekuler yang mahal dan memerlukan fasilitas khusus.
Pendekatan ini sangat relevan, terutama bagi rumah sakit dengan sumber daya yang terbatas. Selain membantu menegakkan diagnosis secara lebih tepat, identifikasi subtipe glioma juga penting untuk menentukan pilihan terapi, memperkirakan respons pengobatan, serta menilai prognosis pasien. Dengan demikian, penggunaan panel imunohistokimia ini dapat mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih baik dan meningkatkan kualitas pelayanan pasien tumor otak.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa ATRX merupakan biomarker imunohistokimia yang paling baik dalam membedakan astrocytoma dan oligodendroglioma dibandingkan GFAP maupun OLIG2. Meskipun demikian, penggunaan ketiga biomarker secara terpadu memberikan informasi yang lebih komprehensif dan dapat meningkatkan ketepatan diagnosis.
Kombinasi ATRX, GFAP, dan OLIG2 sebagai 鈥渒oktail diagnostik鈥 berpotensi menjadi strategi yang efektif, praktis, dan ekonomis, terutama di fasilitas kesehatan yang belum memiliki akses luas terhadap pemeriksaan molekuler. Penerapan pendekatan ini diharapkan dapat membantu dokter menentukan diagnosis dan terapi yang lebih tepat, sehingga mendukung pengobatan yang lebih personal dan meningkatkan kualitas hidup pasien tumor otak.
Sumber: https://www.irjms.com/wp-content/uploads/2026/04/Manuscript_IRJMS_010272_WS.pdf
Judul: Diagnostic Cocktail of Adult Type Diffuse Gliomas: Analysis of Atrx, Gfap and Olig2 Protein
Penulis: Dwi Sri Rejeki, Gondo Mastutik, I. Ketut Sudiana, Rita Cempaka, Indri Safitri Mukono.
Jurnal: Expression. International Research Journal of Multidisciplinary Scope 7 (2), 1620-1629.





