1. Latar Belakang
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa perempuan dengan HIV merupakan kelompok yang rentan menghadapi berbagai tantangan, tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga psikologis, sosial, dan spiritual. Berbagai tekanan tersebut dapat menurunkan kualitas hidup. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada terapi medis, tetapi juga memperhatikan aspek spiritual sebagai strategi koping dalam menghadapi penyakit. ()
2. Tujuan Penelitian
Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan antara:
spiritual coping,
lama waktu sejak diagnosis HIV,
dengan kualitas hidup pada perempuan yang hidup dengan HIV (Women with HIV/WWHIV). ()
3. Metode Penelitian
Desain penelitian: Kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional.
Populasi: Perempuan yang hidup dengan HIV.
Instrumen:
Kualitas hidup diukur menggunakan instrumen yang diadaptasi dari WHOQOL.
Spiritual coping diukur menggunakan Modified Spiritual Coping Scale.
Analisis data:
Korelasi Spearman Rank.
Regresi logistik ordinal untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup. ()
4. Hasil Penelitian
Penelitian menemukan bahwa:
Spiritual coping memiliki hubungan positif yang signifikan dengan kualitas hidup (r = 0,560; p < 0,001).
Durasi sejak diagnosis HIV juga berhubungan positif dengan kualitas hidup (r = 0,402; p < 0,001).
Hasil regresi menunjukkan bahwa perempuan dengan spiritual coping rendah memiliki kemungkinan jauh lebih kecil untuk memiliki kualitas hidup yang baik (OR = 0,014; p < 0,001).
Responden yang baru didiagnosis (<6 bulan maupun 7鈥�12 bulan) memiliki kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan mereka yang telah hidup dengan HIV selama lebih dari dua tahun.
Model penelitian mampu menjelaskan sekitar 47,5鈥�55,8% variasi kualitas hidup (Nagelkerke R虏 = 0,558). ()
5. Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritual coping berperan penting dalam membantu perempuan dengan HIV menerima kondisi penyakit, mengurangi tekanan psikologis, meningkatkan optimisme, dan memperbaiki kemampuan beradaptasi terhadap penyakit kronis. Selain itu, semakin lama seseorang hidup dengan HIV, semakin besar peluangnya untuk beradaptasi terhadap kondisi kesehatan, menjalani terapi secara konsisten, dan membangun dukungan sosial yang lebih baik sehingga kualitas hidup meningkat. ()
6. Kesimpulan
Penelitian menyimpulkan bahwa:
Spiritual coping merupakan faktor yang berhubungan signifikan dengan kualitas hidup perempuan dengan HIV.
Lama waktu sejak diagnosis juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup.
Dukungan spiritual dan psikososial perlu diintegrasikan ke dalam pelayanan HIV, terutama pada pasien yang baru menerima diagnosis. ()
7. Kelebihan Penelitian
Menggunakan analisis statistik yang cukup kuat (korelasi dan regresi logistik ordinal).
Mengangkat aspek spiritual yang masih relatif jarang diteliti dalam pelayanan HIV.
Memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan pelayanan HIV yang lebih holistik.
8. Keterbatasan Penelitian
Menggunakan desain cross-sectional, sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat.
Data dikumpulkan pada satu waktu sehingga perubahan kualitas hidup dari waktu ke waktu tidak dapat diamati.
Variabel lain yang juga memengaruhi kualitas hidup, seperti dukungan keluarga, kepatuhan terapi antiretroviral, status ekonomi, dan kesehatan mental, belum seluruhnya dianalisis. ()
9. Implikasi Penelitian
Hasil penelitian mendukung perlunya pengembangan program pendampingan yang mengintegrasikan:
konseling spiritual,
dukungan psikososial,
edukasi adaptasi pascadiagnosis,
serta pendampingan khusus pada fase awal setelah seseorang didiagnosis HIV, agar kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan secara menyeluruh. ()
Referensi
Muchsin, R., Yunitasari, E., Bakar, A., & Hati, Y. (2026). Spiritual Coping and Duration Since Diagnosis Associated With Quality of Life Among Women With HIV: A Cross-Sectional Study. AIDS Research and Treatment, 2026(1), Article 8997271. https://doi.org/10.1155/arat/8997271





