Jamu telah lama digunakan masyarakat Indonesia sebagai salah satu pilihan untuk menjaga kesehatan, termasuk membantu mengendalikan diabetes. Namun, agar dapat diterima sebagai bagian dari pengobatan berbasis bukti, jamu perlu dibuktikan secara ilmiah mengenai kandungan serta keamanannya. Penelitian terbaru berhasil mengkaji ramuan jamu antidiabetes yang terdiri atas temulawak, daun salam, sambiloto, dan kayu manis menggunakan Nuclear Magnetic Resonance (NMR). NMR mampu mengidentifikasi berbagai senyawa alami di dalam suatu bahan tanpa merusaknya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ramuan jamu tersebut mengandung sedikitnya 30 senyawa alami yang berasal dari keempat tanaman penyusunnya. Analisis juga membuktikan bahwa senyawa-senyawa penting dari setiap tanaman tetap ada di campuran akhir. Hal tersebut menunjukkan bahwa proses pencampuran tidak menghilangkan komponen utamanya. Selain mengidentifikasi kandungan kimia, penelitian ini juga mengevaluasi keamanan jamu menggunakan ikan zebra (zebrafish). Ikan zebra banyak digunakan dalam penelitian biomedis karena memiliki respons biologis yang serupa dengan manusia pada berbagai aspek dasar. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak jamu tidak menyebabkan kematian ikan uji hingga konsentrasi 800 mg/L, sementara beberapa ekstrak tanaman tunggal menunjukkan tingkat toksisitas yang lebih tinggi pada konsentrasi tertentu. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa pencampuran beberapa tanaman dalam bentuk jamu dapat menghasilkan komposisi yang lebih aman dibandingkan penggunaan ekstrak tunggal dalam dosis yang sama.
Penelitian juga mengamati perilaku ikan setelah terpapar ekstrak jamu untuk mengetahui adanya tanda-tanda gangguan seperti stres atau kecemasan. Hasilnya menunjukkan bahwa jamu tidak menimbulkan perubahan perilaku yang mengarah pada efek toksik, bahkan ikan tetap menunjukkan aktivitas yang normal selama masa pengamatan. Hal tersebut memperkuat dugaan bahwa kombinasi beberapa tanaman obat dapat memberikan efek yang saling melengkapi sehingga manfaatnya tetap dipertahankan sementara risiko efek samping dapat berkurang.
Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan bukti ilmiah bahwa jamu antidiabetes Indonesia memiliki komposisi kimia yang konsisten, mengandung senyawa aktif dari seluruh bahan penyusunnya, serta menunjukkan tingkat keamanan yang baik pada pengujian awal di laboratorium. Hasil tersebut menjadi langkah penting dalam mendukung pengembangan jamu sebagai produk herbal yang tidak hanya berakar pada pengetahuan tradisional, tetapi juga didukung oleh hasil penelitian modern sehingga berpotensi meningkatkan kepercayaan masyarakat dan memperkuat daya saing obat herbal Indonesia di tingkat internasional.
Jika Anda tertarik, silahkan membaca selengkapnya dalam artikel ilmiah yang berjudul 鈥NMR-based metabolomics of Indonesian jamu for diabetes: chemical composition, toxicity, and zebrafish behavioral impact鈥
Artikel tersebut dapat diunduh pada link berikut :
Penulis: Dr. Wimbuh Tri Widodo, M.Si





