UNAIR NEWS 鈥 Penyalahgunaan narkotika masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dalam momentum Hari Anti Narkotika Internasional (HANI), Pakar Epidemiologi sekaligus dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat ( 东京热 (UNAIR), Dr dr Muhammad Atoillah Isfandiari MKes, menyoroti perubahan pola penyalahgunaan narkotika yang semakin kompleks. Terutama di kalangan generasi muda.
Menurut Ato, sapaan akrabnya, kelompok usia 15鈥35 tahun masih mendominasi angka penyalahgunaan narkotika di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa tren penggunaan narkotika kini tidak lagi didominasi heroin atau ganja konvensional. Berbagai new psychoactive substances (NPS) seperti tembakau sintetis, happy five, hingga turunan amfetamin semakin mudah beredar dengan harga yang lebih terjangkau.
鈥淧enetrasi media sosial membuat jalur distribusi dan rekrutmen pengguna baru berlangsung jauh lebih cepat. Sementara pihak berwenang semakin sulit menelusuri peredarannya. Banyak zat sintetis juga dikemas seolah-olah bukan narkoba sehingga menimbulkan persepsi yang keliru di masyarakat,鈥 ujarnya.
Ancaman bagi Kesehatan dan Produktivitas
Ato menjelaskan bahwa penyalahgunaan narkotika tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik semata, tetapi juga mengganggu fungsi otak dan produktivitas seseorang. Dalam jangka pendek, pengguna berisiko mengalami kerusakan neurokognitif akut, gangguan pengambilan keputusan, hingga overdosis. Selain itu, perilaku berisiko yang muncul dapat meningkatkan peluang penularan penyakit infeksi seperti HIV, hepatitis C, dan tuberkulosis.

Pada jangka panjang, dampaknya jauh lebih serius. Narkotika mengubah sistem penghargaan di otak sehingga seseorang kehilangan motivasi dan kemampuan menikmati aktivitas normal seperti belajar, bekerja, maupun bersosialisasi. Kondisi tersebut menyebabkan angka kekambuhan setelah rehabilitasi tetap tinggi.
Penyalahgunaan narkotika menurunkan years of productive life lost, mengurangi partisipasi angkatan kerja, meningkatkan beban sistem kesehatan, serta menghilangkan potensi generasi yang seharusnya menjadi modal pembangunan bangsa. 鈥淧erhitungan menggunakan indikator disability-adjusted life years (DALYs), beban penyakit akibat narkotika di Indonesia tergolong sangat besar. Namun, angka tersebut kemungkinan masih underestimated karena banyak kasus yang belum terdata,鈥 jelasnya.
Upaya Pencegahan Narkotika
Ato menilai upaya pencegahan narkotika selama ini lebih menitikberatkan pada pendekatan penegakan hukum dan supply reduction (pengurangan pasokan). Di sisi lain, strategi demand reduction (pengurangan permintaan) melalui edukasi berbasis bukti dan promosi kesehatan masyarakat belum mendapat porsi yang seimbang. Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk mengatasi akar permasalahan sekaligus mencegah munculnya pengguna baru. Khususnya di kalangan generasi muda.
Menurutnya, strategi pencegahan perlu menyesuaikan karakter generasi muda melalui konten edukasi yang relevan dan tidak sekadar bersifat moralistik. Selain memperkuat deteksi dini di layanan kesehatan primer, upaya pencegahan juga memerlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, institusi pendidikan, layanan kesehatan, komunitas, dan perguruan tinggi.
鈥淭erkadang narkotika tidak menghancurkan impian secara dramatis dalam semalam. Ia menghancurkannya perlahan-lahan hingga suatu saat bukan hanya tubuh yang sakit, tetapi juga orang-orang yang Anda kasihi. Jauhi narkotika, bahkan jangan pernah merasa penasaran untuk mencobanya,鈥 pungkasnya.
Penulis: Maia Chaerunnisa
Editor: Yulia Rohmawati





