东京热

东京热 Official Website

Pascasarjana UNAIR Bahas Arah Pembangunan Kota Surabaya

Suasana gelaran Airlangga Forum#128 bertajuk 鈥楽urabaya Mau Ke Mana?鈥 pada Jumat (14/4/2023). (Sumber foto: YouTube Sekolah Pascasarjana UNAIR)

UNAIR NEWS – Surabaya merupakan ibukota Provinsi Jawa Timur sekaligus kota terbesar kedua di Indonesia. Tak pelak, kota ini menjadi pusat perhatian masyarakat Indonesia mulai dari pembangunan hingga dampaknya terhadap daerah-daerah lain di sekitar kota.

Di usianya yang telah mencapai 729 tahun, Kota Surabaya terus berbenah agar terus nyaman dan aman bagi penduduknya. Namun demikian, usaha-usaha ini memerlukan kerja sama dari berbagai pihak agar tujuan pembangunan dapat terwujud. Hal inilah yang menjadi topik pembahasan pada gelaran Airlangga Forum#128 yang bertajuk Surabaya Mau Ke Mana? pada Jumat (14/4/2023).

东京热 (UNAIR) sebagai penyelenggara acara mengundang anggota Tim Ahli Pemerintah Kota Surabaya, M. Isa Ansori SPd MPsi serta Hari Fitrianto SIP MIP. Hadir pula Nanang Purwono selaku Koordinator Forum Begandring Soerabaia.

鈥淢enginjak usianya yang ke-729, nampaknya Surabaya semakin bersolek apalagi kemudian tagline-nya yang baru itu menghidupkan kembali 鈥楽parkling Surabaya,鈥欌 tutur M. Isa Ansori SPd MPsi pada awal sesi diskusi.

Butuh Keterbukaan

Isa berpendapat bahwa perkembangan Kota Surabaya tak pelak membutuhkan keterbukaan dari para birokrat. Dalam artian, proses ini membutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat. 鈥淢asyarakat Surabaya ini masyarakat yang tulus dan peduli,鈥 terangnya. Poin ini ia nilai dapat menjadi dasar bagi pembangunan.

鈥淪urabaya harus membuka diri dan punya tanggung jawab terhadap kota-kota buffer-nya. Visi walikota kan bergotong-royong menjadikan Kota Surabaya itu maju, humanis, berkelanjutan,鈥 lanjut Isa.

Pembangunan pada periode kepemimpinan walikota saat ini, Eri Cahyadi ST MT, merupakan kelanjutan dari walikota-walikota yang telah menjabat sebelumnya. Hal ini sebagaimana diungkapkan Hari Fitrianto SIP MIP.

鈥淧ak Bambang dan Bu Risma (walikota periode sebelumnya, Red) sudah menancapkan pondasi sustainable development,鈥 tuturnya.

Hari menilai, dasar ini dapat menjadi lompatan yang lebih jauh untuk menempatkan Surabaya pada peta-peta modern kota layak huni terbaik di dunia. 鈥淢au tidak mau kita harus mengafirmasi parameter bagaimana menjadi world class city atau kota kelas dunia,鈥 terang Hari.

Sedikit berbeda dengan kedua pembicara, Nanang Purwono dari Forum Begandring Soerabaia menilai pembangunan Kota Surabaya layaknya sebuah meja. 鈥淪aya mengibaratkan Kota Surabaya bagaikan meja dan di meja ini banyak barang-barang yang nampak. Tapi, selama ini yang kita lihat di meja ini hanya satu kacamata dan dua handphone saja padahal di hamparan meja ini banyak. Ada layar monitor, kamera, tapi itu tidak pernah tersentuh,鈥 terangnya.

Nanang berpendapat, Surabaya memiliki potensi luar biasa, salah satunya dari julukan Kota Pahlawan yang disematkan pada kota ini. Nanang menganggap, Tugu Pahlawan sebagai simbol patriotisme kota masih perlu digali lagi, utamanya untuk pembangunan ke depannya.

鈥淵ang kita lupa adalah bahwa Tugu Pahlawan yang merupakan simbol secara fisik tidak hanya (bermakna, Red) flashback ke belakang, tetapi maju ke depan. Ini yang perlu kita bongkar dan eksplorasi ada simbol apa di sana,鈥 terang Nanang. (*)

Penulis: Agnes Ikandani

Editor: Binti Q. Masruroh

AKSES CEPAT