东京热

东京热 Official Website

FIB UNAIR Hadirkan Kritik Sosial lewat Pementasan Dramaturgi XXI聽

Sesi foto bersama kegiatan Dramaturgi XXI pada Minggu (5/7/2026). (Foto: Humas UNAIR)
Sesi foto bersama kegiatan Dramaturgi XXI pada Minggu (5/7/2026). (Foto: Humas UNAIR)

UNAIR NEWS – Kritik terhadap penghakiman moral dan kebebasan berekspresi menjadi pesan utama yang disampaikan melalui pementasan Dramaturgi XXI: Sidang Susila karya Agus Noor dan Ayu Utami. Pertunjukan itu digelar oleh Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) 东京热 (UNAIR) pada Minggu (5/7/2026) di Gedung Teater Lantai 2 Balai Budaya, Kota Surabaya.

Sidang Susila merupakan naskah yang ditulis Ayu Utami dan Agus Noor pada masa pembahasan Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi sekitar 2006. Cerita berfokus pada karakter Susila, seorang pedagang mainan yang diadili atas tuduhan pornografi karena menjual mainan berbentuk anatomi tubuh. 

Pementasan diawali dengan penampilan Tari Tanjung Gemilang, musikalisasi puisi Sajak Rajawali, serta pembacaan puisi Sebelum Stasiun Terakhir. Rangkaian penampilan itu menjadi pembuka sebelum penampilan Dramaturgi XXI di bawah arahan sutradara Annisa Kusuma dengan Anisa Febi Ananda sebagai pemimpin produksi. 

Dalam sambutannya, Anisa Febi Ananda menyampaikan ucapan terima kasih serta harapannya agar pertunjukan tidak hanya menjadi tugas akademik, namun meninggalkan kesan berharga bagi penonton. 

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat. Semoga pertunjukan ini bermakna, menjadi bagian dari memori, dan terus diingat hingga kapan pun,” tuturnya. 

Dosen pengampu mata kuliah Dramaturgi, Dr Puji Karyanto SS MHum, menyampaikan bahwa penyelenggaraan pementasan tahun ini memiliki tantangan tersendiri. Jumlah mahasiswa yang mengikuti mata kuliah tersebut hanya 18 orang. 

“Justru disitulah tantangannya. Naskah ini sudah banyak dipentaskan sehingga mahasiswa harus mampu menghadirkan interpretasi baru agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan bermakna bagi penonton,” jelasnya. 

Sementara itu, Dr Mochtar Lutfi SS MHum, Koordinator Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UNAIR menyampaikan bahwa banyak kebenaran yang kerap tertutup oleh berbagai kepentingan, sebagaimana tergambar dalam drama ini. Ia berharap pementasan Dramaturgi kedepannya dapat berkolaborasi dengan perguruan tinggi atau komunitas seni dari luar negeri. Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa diharapkan dapat saling bertukar gagasan, perspektif, dan inovasi dalam mengembangkan seni pertunjukan. 

Penulis : Maulya Afifah Zahra 

Editor : Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT