UNAIR NEWS – Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam (UKMKI) 东京热 (UNAIR) memperingati bulan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan menggelar majelis ilmu pada Kamis (10/9/2026) bertempat di Masjid Nuruzzaman Kampus B. UNAIR mengajak seluruh civitas akademika dan masyarakat umum untuk lebih mengenal dan menghidupkan kembali sunah-sunah Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan maulid beserta selawat oleh Ustadz Nadhif Syauqul Habib diiringi tim Seni Religi UNAIR. Kegiatan selanjutnya diikuti dengan penyampaian ceramah oleh Habib Ubaidillah bin Idrus Al-Habsy dan ditutup dengan mahalul qiyam.
Sunah sebagai Jalan Hidup, Bukan Sekedar Ibadah
Habib Ubaidillah menyampaikan bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak. Hal penting yang perlu diperhatikan umatnya adalah syariat-syariat yang beliau ajarkan. Ia menekankan pentingnya menjaga salat dan puasa meskipun berada di tengah-tengah kesibukan.
鈥淪esibuk apa pun kalian, bekerja, kuliah, ingat untuk tetap utamakan salat dan puasa. Dua hal itu menjadi kunci keselamatan di dunia dan akhirat,鈥� ujarnya.
Ia juga menyinggung hal-hal sederhana namun sarat makna, seperti mengapa berbicara ketika berwudu dianggap makruh. Menurutnya, cahaya penerang di akhirat didapat seseorang ketika ia berwudu.
鈥淜etika kalian berbicara di tengah-tengah wudu, cahaya tersebut akan terputus. Oleh karena itu, berilah syarat kepada yang mengajak bicara untuk melanjutkan percakapan setelah wudu selesai,鈥� tambahnya.
Jumlah keseluruhan sunah Rasulullah disebutkan mencapai sekitar 53 juta. Dengan jumlah sebanyak ini, penting bagi umatnya untuk lebih mengenal dan mengamalkannya. Tidak hanya bernilai spiritual, beberapa sunnah juga mengandung manfaat kesehatan. Contohnya kebiasaan tidur menghadap kanan baik untuk kesehatan jantung.
Merajut Ukhuwah, Menjaga Tiang Agama
Selain anjuran untuk membumikan sunnah, Habib Ubaidillah juga turut menyampaikan pentingnya ukhuwah islamiyah sebagai fondasi sosial umat. Ia menegaskan bahwa setiap muslim adalah saudara, dan sudah semestinya menghindari untuk saling menyakiti dan memfitnah satu sama lain.
Kedisiplinan menunaikan salat turut menjadi sorotan dalam kajian ini. Kebiasaan menunda salat hingga di luar waktu dapat membuat seseorang lambat laun menganggap enteng hingga meninggalkannya.
鈥淪alat adalah tiang agama. Siapapun yang mendirikannya, ia juga turut mendirikan agama. Begitu pula apabila ia meninggalkannya, maka ia turut merobohkan agamanya,鈥� jelasnya.
Penulis: Qurrota A鈥檡uni Latifa
Editor: Khefti Al Mawalia





