东京热

东京热 Official Website

Bangun Budaya Kampus Aman, BEM FISIP UNAIR Gelar Forum Bedah Buku

Prof Myrta dan Pingkan saat berdiskusi bersama peserta Forum Bedah Buku (Foto: Dok. Panitia)

UNAIR NEWS 鈥 Badan Eksekutif Mahasiswa () Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik () 东京热 (UNAIR) membuka ruang diskusi mengenai sexual awareness di lingkungan kampus melalui Forum Bedah Buku Sebab Kita Semua Gila Seks. Bertajuk Membangun Kesadaran Seksualitas dan Budaya Kampus Aman, kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis (21/5/2026) di Aula Soetandyo FISIP, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR.

Forum bedah buku tersebut menghadirkan dua narasumber. Yakni Ketua Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi () Prof Dra Myrtati Dyah Artaria MA PhD dan dosen Sosiologi FISIP UNAIR Pingkan Sekar Savira SSosio MSosio. Keduanya membahas berbagai persoalan terkait kesadaran seksual, konsep consent, relasi kuasa, hingga pentingnya menciptakan ruang kampus yang aman dan bebas dari kekerasan seksual.

Dalam pemaparannya, Pingkan menjelaskan bahwa seksualitas tidak sesederhana persoalan mengenai tubuh dan ketertarikan. Tetapi juga berkaitan dengan cara masyarakat memahami relasi sosial. Menurutnya, norma dan budaya membentuk cara seseorang memandang seksualitas. Termasuk menentukan standar normal, pantas, maupun tabu dalam masyarakat.

鈥淪eksualitas bukan hanya persoalan biologis, tetapi juga hasil konstruksi sosial yang terus terbentuk melalui budaya, lingkungan, dan kehidupan sosial,鈥 jelas Pingkan.

Prof Myrta dan Pingkan bersama peserta Forum Bedah Buku pada Kamis (21/5/2026) di Aula Soetandyo FISIP, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR
Prof Myrta dan Pingkan bersama peserta Forum Bedah Buku pada Kamis (21/5/2026) di Aula Soetandyo FISIP, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR (Foto: Dok. Panitia)

Ia menilai standar sosial tersebut kerap melahirkan stigma hingga standar ganda dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, Pingkan juga mengurai relasi kuasa dalam interaksi sosial yang sering kali tidak berjalan setara dan dapat memunculkan tekanan terhadap pihak tertentu.

Selain itu, Pingkan menegaskan bahwa kekerasan seksual tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan ekstrem. Menurutnya, budaya diam dan pembiaran terhadap komentar seksis maupun pelecehan verbal dapat memperkuat normalisasi kekerasan seksual di lingkungan sosial. 鈥淜ita perlu membangun keberanian untuk speak up dan tidak menjadi bystander ketika melihat tindakan yang mengarah pada kekerasan seksual,鈥 tegasnya.

Sementara itu, Prof Myrta menjelaskan seksualitas dari perspektif fisiologis-biologis. Ia menjelaskan bahwa dorongan seksual sejak awal menjadi bagian dari mekanisme survival manusia untuk menjaga keberlangsungan spesies. 鈥淪ebelum manusia mengenal konsep cinta, dorongan seksual sudah hadir sebagai kebutuhan biologis dasar yang setara dengan lapar dan haus,鈥 ujar Prof Myrta.

Menurutnya, manusia modern masih membawa 鈥減erangkat evolusioner鈥 yang terbentuk sejak jutaan tahun lalu. Kondisi tersebut membuat dorongan seksual sering muncul secara alami dan sulit terkendali sepenuhnya secara sadar.

Namun, Prof Myrta menegaskan bahwa manusia tetap memiliki kemampuan berpikir, kesadaran, serta nilai sosial yang membedakannya dari makhluk hidup lain. Karena itu, setiap individu perlu memahami batasan, etika, dan tanggung jawab dalam membangun relasi dengan orang lain. 鈥淜esadaran seksual mencakup pemahaman mengenai tanggung jawab, empati, serta penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain,鈥 pungkas Prof Myrta.

Penulis: Maia Chaerunnisa

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT