东京热

东京热 Official Website

Bagaimana Keragaman Karier CEO Mempengaruhi Efisiensi Investasi Suatu Perusahaan?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Penelitian ini mengkaji pengaruh variasi karier CEO terhadap efisiensi investasi perusahaan. Fenomena ini sangat relevan mengingat pentingnya pengambilan keputusan investasi di dunia bisnis modern, di mana memiliki figur Chief Executive Officer (CEO) dengan riwayat karier melintasi berbagai industri, fungsi, hingga negara sering kali dianggap sebagai keunggulan mutlak. Asumsi teoretis dan beberapa studi terdahulu menyebutkan bahwa kekayaan pengalaman ini akan membuat pimpinan lebih tangkas beradaptasi dan cerdik dalam mengambil keputusan strategis. Namun, rekam jejak yang terlalu bervariasi juga memunculkan kekhawatiran terkait menurunnya komitmen dan hilangnya fokus pada detail spesifik perusahaan. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi krusial karena masih sedikit perhatian yang diberikan untuk menguji apakah Curriculum Vitae (CV) mentereng dan bervariasi ini benar-benar selalu berujung pada keputusan investasi yang efisien, terutama ketika dihadapkan pada realitas pasar negara berkembang yang penuh dengan ketidakpastian institusional.

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh variasi karier CEO terhadap tingkat efisiensi investasi perusahaan. Data yang digunakan bersumber dari ratusan perusahaan publik non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2018 hingga 2021. Indonesia dipilih karena sangat mewakili dinamika negara berkembang. Indonesia memiliki tantangan pasar modal yang belum matang sempurna, perlindungan investor yang lemah, serta rekor Incremental Capital Output Ratio (ICOR) tertinggi di ASEAN yang menjadi indikator bahwa efisiensi investasi secara nasional masih tergolong rendah.

Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan memperluas pemahaman pada Upper Echelons Theory, membuktikan bahwa nilai dari keberagaman karier seorang eksekutif ternyata sangat bergantung pada lingkungan bisnisnya. Dari sisi praktis, temuan ini memberikan panduan krusial bagi pemegang saham dan dewan direksi agar tidak sekadar terpesona oleh banyaknya daftar industri di dalam CV kandidat CEO, melainkan harus jeli menilai relevansinya dengan ekosistem perusahaan. Keterbaruan riset ini terletak pada pengujian efek variasi karier terhadap dua sisi inefisiensi, yakni kecenderungan terlalu berani berinvestasi (overinvestment) atau terlalu berhati-hati menahan dana (underinvestment), dengan menjadikan efisiensi investasi sebagai tolok ukur spesifik. Tujuan utamanya adalah menjawab pertanyaan: Bagaimana variasi karier CEO memengaruhi efisiensi investasi perusahaan di Indonesia?

Metode Penelitian dan Hasil

Untuk mengupas tuntas fenomena ini, penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan regresi data panel yang diperkuat oleh metode Coarsened Exact Matching (CEM) dan regresi dua tahap Heckman guna memastikan hasil yang akurat dan bebas dari bias endogenitas. Variabel dependen yang disorot adalah efisiensi investasi, yang diukur dari seberapa jauh penyimpangan investasi aktual perusahaan dari tingkat idealnya. Sementara itu, variabel independen utamanya adalah variasi karier CEO, yang dikalkulasi secara teliti dengan menjumlahkan rekam jejak kerja CEO di berbagai sektor industri, perusahaan, area fungsional, dan negara sebelum menjabat. Analisis ini melibatkan 941 observasi firm-year dan secara khusus membedah perusahaan ke dalam kelompok yang rentan mengalami underinvestment dan overinvestment.

Hasil penelitian justru mengungkap fakta yang mengejutkan: semakin bervariasi riwayat karier seorang CEO, efisiensi investasi perusahaan secara keseluruhan justru cenderung menurun. Temuan ini menunjukkan efek asimetris. CEO dengan predikat generalis ini memang hebat dalam mengerem ambisi agar perusahaan tidak membuang-buang uang secara berlebihan (overinvestment). Akan tetapi, kehati-hatian mereka justru sering kali membuat perusahaan kehilangan peluang emas untuk bertumbuh karena terlalu banyak menahan dana (underinvestment). Hal ini terjadi karena luasnya pengalaman kerja sang CEO ternyata dapat melemahkan pemahaman detail mereka terhadap pengetahuan spesifik perusahaan dan merenggangkan jejaring dengan pemangku kepentingan lokal yang sangat krusial di negara berkembang. Pada akhirnya, perusahaan yang dipimpin oleh CEO berlatar belakang sangat beragam wajib memperkuat pengawasan dewan dan pengetatan evaluasi (seperti audit pasca-investasi) agar roda pertumbuhan tidak melambat.

Penulis : Nurul Fitriani, Iman Harymawan*, Norazlin Binti Ab Aziz, Dirgahayu Almi Mahati

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

AKSES CEPAT