¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Air Liur Dinilai Bisa Deteksi Tumbuh Kembang Anak, Termasuk Down Syndrome

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

“Apakah dua anak yang usianya sama pasti memiliki tingkat pertumbuhan yang sama?” Jawabannya belum tentu. Dalam dunia kedokteran gigi anak, mengetahui tingkat kematangan biologis seorang anak jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui usia berdasarkan tanggal lahir. Informasi tersebut membantu dokter menentukan waktu yang tepat untuk berbagai tindakan perawatan, khususnya yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan rahang serta gigi.

Selama ini, penilaian kematangan biologis umumnya dilakukan melalui pemeriksaan radiografi untuk melihat perkembangan gigi dan tulang. Namun, pemeriksaan tersebut memerlukan paparan sinar-X dan pada kondisi tertentu tidak selalu mudah dilakukan, terutama pada anak-anak berkebutuhan khusus.

Kabar baiknya, penelitian terbaru dari Fakultas Kedokteran Gigi ¶«¾©ÈÈ menunjukkan bahwa air liur berpotensi menjadi alternatif pemeriksaan yang sederhana, nyaman, dan noninvasif.

Penelitian yang dipublikasikan dalam European Journal of Dentistry ini menganalisis hubungan antara kadar hormon dehydroepiandrosterone sulfate (DHEA-S) dalam air liur dengan usia gigi (dental age) dan kematangan vertebra servikal (cervical vertebral maturation/CVM) pada anak usia 8–14 tahun. Penelitian melibatkan 80 partisipan yang terdiri atas 56 anak dengan perkembangan normal dan 24 anak dengan Down syndrome.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar DHEA-S dalam air liur meningkat seiring bertambahnya kematangan biologis anak. Semakin tinggi kadar DHEA-S, semakin matang pula perkembangan gigi dan tulang. Hubungan tersebut ditemukan baik pada anak yang berkembang normal maupun pada anak dengan Down syndrome. Bahkan, korelasi terkuat ditemukan antara kadar DHEA-S dengan kematangan vertebra servikal, yang merupakan salah satu indikator penting dalam menilai fase pertumbuhan anak.

Temuan ini menjadi sangat menarik karena menunjukkan bahwa saliva tidak hanya berfungsi menjaga kesehatan rongga mulut, tetapi juga menyimpan informasi biologis mengenai proses pertumbuhan tubuh. Dengan hanya mengambil sampel air liur, dokter berpotensi memperoleh gambaran mengenai tingkat kematangan biologis seorang anak tanpa prosedur yang invasif.

Bagi anak dengan Down syndrome, temuan ini memiliki arti yang lebih besar. Anak-anak dengan Down syndrome sering mengalami pola pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda dibandingkan anak pada umumnya. Selain itu, pemeriksaan radiografi terkadang menjadi tantangan karena keterbatasan kerja sama selama prosedur berlangsung. Oleh karena itu, pemanfaatan biomarker saliva dapat menjadi pendekatan yang lebih nyaman sekaligus mendukung penilaian pertumbuhan pada kelompok anak berkebutuhan khusus.

Meskipun pemeriksaan radiografi tetap menjadi standar dalam praktik klinis, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa DHEA-S saliva berpotensi menjadi biomarker pendamping (adjunctive biomarker) untuk membantu mengevaluasi kematangan biologis anak. Pengembangan metode ini diharapkan dapat mendukung pelayanan kesehatan yang semakin presisi, aman, dan ramah anak.

Penelitian ini sekaligus memperkuat perkembangan bidang salivary diagnostics, yaitu pemanfaatan air liur sebagai media diagnostik untuk berbagai kondisi kesehatan. Ke depan, air liur berpotensi menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung pelayanan kedokteran gigi berbasis biomarker, termasuk dalam pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Penulis:

Prof. Dr. Sindy Cornelia Nelwan, drg., Sp.KGA., Subsp.KKfA(K)

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

Nelwan SC, Saskianti T, Dewi AM, Marks L, Achirularofa FC, Fatmawati L, Sunur BB, Andriani DS. Correlation Between Salivary Dehydroepiandrosterone Sulfate Levels, Dental Age, and Cervical Vertebral Maturation in Typically Developing Children and Children with Down Syndrome Aged 8 to 14 Years. European Journal of Dentistry. 2026.

AKSES CEPAT