东京热

东京热 Official Website

Air Daur Ulang dari Limbah Agroindustri: Solusi Krisis Air atau Masalah Baru?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Di tengah krisis air global yang kian memburuk, para ilmuwan dan praktisi lingkungan mencari cara agar setiap tetes air bisa dimanfaatkan ulang. Salah satu kandidat menjanjikan adalah limbah cair agroindustri (LAI), yakni air buangan dari pabrik pengolahan pangan, peternakan, budidaya ikan, hingga pabrik etanol. Kaya nutrisi dan tersedia dalam volume besar, LAI tampak seperti jawaban sempurna untuk kebutuhan irigasi, akuakultur, bahkan industri. Namun, dua peneliti dari 东京热 dan Institut Teknologi Bandung, Rinaldy Jose Nathanael dan Katharina Oginawati, memperingatkan bahwa di balik potensi itu tersembunyi ancaman serius yang belum banyak disadari: kontaminan yang baru muncul sebagai perhatian (contaminants of emerging concern/CEC).

Dalam kajian ilmiah terbaru mereka, keduanya mengidentifikasi tiga kelompok CEC yang paling mengkhawatirkan dalam LAI. Kelompok pertama adalah senyawa farmasi. Peternakan modern menggunakan antibiotik dan hormon secara masif, mulai dari tetrasiklin untuk sapi hingga estrogen sintetik untuk mengatur reproduksi hewan. Senyawa-senyawa ini lolos bersama air limbah, dan kalau sampai digunakan untuk irigasi sayuran atau pengairan kolam ikan, dampaknya bisa serius: produk pangan terkontaminasi, resistansi antibiotik meningkat, dan ekosistem perairan terganggu. Ikan dan katak, misalnya, dapat mengalami gangguan reproduksi hanya karena terpapar hormon, meskipun dalam konsentrasi sangat rendah.

Kelompok kedua adalah pestisida generasi baru. Jenis seperti neonikotinoid dan diamida memang dirancang lebih efektif, tetapi justru itulah yang membuatnya berbahaya, karena bersifat persisten di lingkungan. Limpasan dari lahan pertanian membawa senyawa ini masuk ke aliran air limbah pengolahan pangan. Jika LAI yang tercemar pestisida kemudian digunakan ulang untuk mengairi sawah atau mengisi kembali akuifer, kontaminan ini bisa menyusup ke rantai makanan dan air minum, dengan risiko gangguan sistem endokrin hingga potensi karsinogenik jangka panjang. Kelompok ketiga adalah mikro- dan nanoplastik. Serpihan plastik berukuran lebih kecil dari 5 milimeter, bahkan ada yang lebih kecil dari 100 nanometer, berasal dari kemasan produk, ban mesin konveyor, hingga peralatan budidaya. Ukurannya yang sangat kecil membuat mereka mampu menyusup ke pori-pori tanah, diserap akar tanaman, dan terakumulasi dalam tubuh ikan. Lebih gawatnya, permukaan plastik mikro ini bagaikan magnet bagi polutan lain seperti logam berat dan pestisida, sehingga efek kontaminasinya berlipat ganda.

Instalasi pengolahan air konvensional, yang sudah cukup baik untuk menyaring padatan tersuspensi dan zat organik biasa, ternyata tidak mampu menangkap CEC secara efektif. Teknologi yang lebih canggih seperti Membrane Bioreactor (MBR) dan Advanced Oxidation Process (AOP) sudah tersedia dan menunjukkan hasil menjanjikan, dengan efisiensi penghilangan antibiotik tertentu mencapai lebih dari 90%. Namun, biaya operasionalnya yang tinggi membuat banyak industri kecil dan menengah enggan mengadopsinya. Para penulis mengusulkan pendekatan sistem hibrid yang memadukan MBR dengan AOP dan bahan adsorben berbiaya rendah, serta pengembangan sistem modular yang bisa disesuaikan dengan skala operasi, dari pabrik tahu hingga peternakan ayam besar.

Ironisnya, regulasi belum ikut berlari sekencang masalahnya. Baik standar EPA Amerika Serikat maupun kerangka REACH Uni Eropa belum secara spesifik mengatur batas aman CEC dalam air yang didaur ulang, apalagi untuk mikro- dan nanoplastik serta pestisida generasi terbaru. Nathanael dan Oginawati menegaskan bahwa tanpa regulasi yang tegas, sistem daur ulang LAI bisa berbalik menjadi ancaman: alih-alih menyelamatkan sumber daya air, justru menyebarkan polutan ke lahan pertanian, kolam ikan, dan akhirnya ke meja makan kita.

Solusinya tidak bisa hanya mengandalkan teknologi semata. Dibutuhkan kombinasi antara inovasi pengolahan air yang terjangkau, regulasi yang adaptif berbasis sains, pendekatan ekonomi sirkular yang mengolah limbah sekaligus memulihkan nutrisinya, serta kolaborasi lintas disiplin antara insinyur lingkungan, ahli toksikologi, pembuat kebijakan, dan masyarakat. Air limbah agro-industri memang bisa menjadi aset berharga di tengah krisis air. Namun, seperti tambang emas yang butuh pengelolaan hati-hati agar tidak meracuni lingkungan sekitarnya, LAI pun membutuhkan penanganan serius sebelum benar-benar aman untuk dikembalikan ke siklus kehidupan.

Penulis: Rinaldy Jose Nathanael, S.T., M.T.

Artikel ini disarikan dari book chapter: Nathanael, R.J. & Oginawati, K. “Emerging Contaminants in Agro-Industrial Effluent: Challenges in Water Reuse” (https://doi.org/10.1201/9781003604273-3).

AKSES CEPAT